ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DECOMPENSASI CORDIS DENGAN KEBUTUHAN OKSIGENASI: PENURUNAN CURAH JANTUNG DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RSUD GENTENG OLEH: TRIAS SUGIHARTI

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Decompensasi Cordis merupakan masalah kesehatan utama diseluruh dunia (Prihatiningsih, 2018, hal. 141). Jantung merupakan suatu organ kompleks yang fungsi utamanya adalah memompa darah melalui sirkulasi paru dan sistemik. Bila ditemukan kegagalan  jantung dalam memompa darah  guna mencukupi kebutuhan sel-sel tubuh akan nutrient dan oksigen secara inadekuat pada penderita Decompensasi Cordis akan  mempengaruhi efisiensi pemompaan darah dan dapat mengakibatkan penurunan curah jantung. (Santoso, 2012).

Prevalensi gagal jantung di Asia Tenggara mencapai 3 kali lipat jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Amerika yaitu sebesar 4.5-6.7% : 0.5-2% (Prihatiningsih, 2018). Prevalensi  penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter  pada penduduk di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 1,5% (Riskesdas, 2018). Berdasarkan diagnosis dokter prevalensi gagal jantung di Jawa Timur sebanyak 54.826 orang (0,19%) (Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan diagnosis dokter RSUD Banyuwangi pasien yang datang dengan masalah jantung sebanyak 75% (Virnanda, 2018).

Decompensasi Cordis disebabkan oleh sindrom kompleks yang terjadi akibat gangguan jantung yang merusak kemampuan ventrikel untuk mengisi dan memompa darah secara efektif. Gangguan fungsi jantung tersebut sering kali diakibatkan oleh kerusakan kontraksi miokardium yang disebabkan oleh penyakit infark miokardium, pada saat jantung tidak efektif dalam berfungsi sebagai pompa untuk memenuhi kebutuhan tubuh maka mengakibatkan penurunan curah jantung (Priscilla, 2016, hal. 1208). Penurunan curah jantung akan mengakibatkan kerusakan pertukaran gas dikarenakan jantung kiri tidak mampu memompa darah ke paru-paru dan darah tidak mampu mengangkut oksigen yang diperlukan sehingga terjadi gangguan pemenuhan oksigenasi (Udjianti, 2013)

Penatalaksanaan yang dilakukan pada klien dengan Decompensasi Cordis dapat diberikan terapi farmakologi: golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), beta bloker, Angiotensin Receptor Bloker (ARB), glikosida jantung, vasodilator, agonis beta, serta bipiridin (Nurarif A. H., 2016). Sedangkan untuk mengurangi gejala sesak nafas karena penurunan curah jantung menggunakan teknik (slow deep breathing) atau bisa disebut latihan napas lambat dan dalam, lakukan terapi 15 menit pada waktu pagi dan sore hari (Septiawan, 2018)

  1. Batasan Masalah

Masalah pada kasus ini dibatasi dengan Asuhan Keperawatan Pada Klien yang Mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.

  1. Rumusan Masalah

’’Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Klien yang Mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.?’’

  1. Tujuan
  2. Tujuan Umum

Menganalisis Asuhan Keperawatan Pada Klien yang Mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.

  1. Tujuan Khusus
  2. Melakukan pengkajian pada klien yang mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.
  3. Menetapkan diagnosis keperawatan pada klien yang mengalami  Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.
  4. Menyusun perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.
  5. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.
  6. Melakukan evaluasi pada klien yang mengalami Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung di RSUD Genteng Tahun 2019.
  7. Manfaat
  8. Manfaat Teoritis

Teknik terapi Slow Deep Breathing berfungsi meningkatkan kemampuan otot-otot pernapasan untuk meningkatkan compliance paru dalam meningkatkan fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi pada pasien yang mengalami Decompensasi Cordis dengan kebutuhan oksigenasi: Penurunan Curah Jantung

  1. Manfaat Praktis
  2. Bagi  Klien.

Diharapkan dapat meningkatkan fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi pada pasien setelah menggunakan teknik slow deep breathing.

  • Bagi Perawat

Memberikan asuhan keperawatan dengan terapi slow deep breathing untuk meningkatkan fungsi ventilasi.

  • Manfaat Bagi Rumah Sakit

Teknik slow deep breathing dapat memperpendek hari perawatan pada klien yang mengalami decompensasi cordis dengan kebutuhan oksigenasi: penurunan curah jantung.

  • Maanfaat Bagi Institusi Pendidikan

Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan datang melalui pengaplikasian teknik slow deep breathing dalam praktik lapangan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • Konsep  Penyakit
  • Definisi

Decompensasi cordis adalah suatu keadaan ketika jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi yang cukup bagi kebutuhan tubuh, meskipun tekanan pengisian vena normal (Muttaqin, 2012, hal. 196).

Decompensasi Cordis suatu kondisi ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. (Awan Hariyanto, 2015, hal. 59).

Jadi Decompensasi Cordis merupakan ketidakmampuan jantung memompa darah sehingga jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi yang cukup bagi kebutuhan tubuh.

  • Etiologi

Ada beberapa penyebab dari gagal jantung menurut (Udjianti, 2013):

  1. Kelebihan Volume.
  2. Over Tranfusion.
  3. Left-To Right Shunts.
  4. Hipervolemia.
  5. Kelebihan Tekanan.
  6. Stenosis Aorta.
  7. Hipertensi.
  8. Hipertrofi Kardiomiopati.
  • Disfungsi Miokard.
  • Kardiomiopati.
  • Miokarditis.
  • Iskemik/infark.
  • Disritmia.
  • Keracunan.
  • Gangguan Pengisian.
  • Stenosis Mitral.
  • Stenosis Triskuspidalis.
  • Temponade Kardial.
  • Perikarditis Konstriktif.
  • Peningkatan Kebutuhan Metabolik.
  • Anemia.
  • Demam.
  • Beri-Beri.
  • Penyakit Paget’s.
  • Fistula Arteriovenous.
  • Manifestasi Klinis

Adapun tanda dan gejala gagal jantung kiri yaitu :

  1. Dispneu diakibatkan adanya penimbunan cairan dalam alveoli yang menyebabkan terganggunya pertukaran gas (Sulistyowati, 2015).
  2. Paroxismal Noktural Dispnea kejadian ini bisa terjadi tiba-tiba akibat dari penurunan oksigenasi yang dipicu oleh ketidakadekuatan cardiac output (Pranata, 2017)
  3. Batuk disebabkan gangguan pada alveoli sehingga terkadang pasien mengalami batuk kering atau basah (Sulistyowati, 2015).
  4. Mudah lelah terjadi akibat curah jantung yang tidak adekuat untuk mensirkulasi oksigen dan penurunan fungsi jantung untuk membuang sisa metabolisme (Sulistyowati, 2015).
  5. Kegelisahan dan Kecemasan terjadi akibat gangguan oksigenasi dan terganggunya pernapasan (Sulistyowati, 2015).
  6. Takikardia terjadi pemenuhan oksigenasi jaringan bekerja lebih kuat (Sulistyowati, 2015).
  7. Patofisiologi.

Jantung yang normal berespons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggunakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kardiak output (Padila, 2012, hal. 79). Bila jantung tidak adekuat dalam memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, maka jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, akibatnya terjadilah decompensasi cordis (Muttaqin, Arif, 2012, hal. 200). Penyebab gagal jantung meliputi: 1) Preload (bebean awal). 2) Kontraktilitas. 3) After lood (beban akhir) (Karson, 2016, hal. 186-187). Decompensasi Cordis juga diakibatkan oleh kelebihan tekanan seperti hipertensi yang menimbulkan kontraktilitas meningkat dan mengakibatkan beban jantung meningkat sehingga jantung tidak efektif dalam memompa darah ke seluruh tubuh (Priscilla, 2016, hal. 1208). Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi menurunnya kemampuan kontraktilitas jantung, sehingga menyebabkan penurunan darah ke seluruh tubuh (Karson, 2016, hal. 187). Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertropi). Kegagalan pemompaan pada jantung kiri akan menimbulkan gejala dispnea on effort, orthopnea, sianosis, batuk, dahak berdarah, lemah, peningkatan tekanan pulmonari kapiler, peningkatan atrium kiri (Padila, 2012, hal. 81). Apabila suplai darah tidak lancar diparu-paru (darah tidak masuk ke jantung), menyebabkan penimbunan cairan diparu-paru yang dapat menurunkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida di paru-paru. Situasi ini akan memberikan suatu gejala sesak napas dyspnea saat beraktivitas maupun tidak sehingga mengakibatkan intoleransi aktivitas (Karson, 2016, hal. 188). Apabila suplai darah kurang keginjal akan mempengaruhi mekanisme pelepasan renin-angiotensin dan akhirnya terbentuk angiotensin II sehingga terjadi ketidakseimbangan volume cairan. Gagal jantung berlanjut dapat menimbulkan asites, dimana asites dapat menimbulkan gejala-gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, anoreksia (Karson, 2016, hal. 187). Suplai darah yang kurang di daerah otot dan kulit, menyebabkan kulit menjadi pucat dan dingin serta timbul gejala letih, lemah, lesu (Karson, 2016, hal. 188).

Pathway Decompensasi Cordis

Beban sistolik berlebih
Hipertensi
Kelainan otot jantung
Kontraktilitas ↓
Preload
Beban pengosongan ventrikel
Beban jantung meningkat
Gangguan aliran darah ke otot jantung
Gagal pompa ventrikel kir
Decompensasi cordis
Penurunan curah jantung
Cardiac output turun
Penurunan sirkulasi sistemik
Asupan O2 ke otot jantung menurun
Iskemia otot jantung
Nyeri Akut
Cadangan energi turun
Intoleransi aktivitas
Aliran darah pulmo menuju jantung tertahan
Tekanan intrapulmonal meningkat
Kapasitas paru ↓
dyspnea
Ketidakefektifan pola napas
Hipoksia sel
Penurunan sirkulasi sistemik
Pasokan O2 ke sel menurun
Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer

Gambar 2.1 Pathway Decompensasi Cordis berdasarkan (Nurarif A. H., 2016), (Karson, 2016) , (Pranata, 2017)


  • Klasifikasi

Klasifikasi fungsional gagal jantung menurut New York Haert Association (NYHA):

Kelas I : Tidak ada keterbatasan aktivitas fisik. Aktivitas fisik biasa tidak menyebabkan keletihan atau dispnea.
Kelas II : Sedikit keterbatasan fisik. Merasa nyaman saat istirahat, tetapi aktifitas fisik biasa menyebabkan keletihan atau dispnea.
Kelas III : Keterbatasan nyata aktivitas fisik tanpa gejala. Gejala terjadi bahkan saat istirahat. Jika aktivitas fisik dilakukan, gejala meningkat.
Kelas IV : Tidak mampu melaksanakan aktivitas fisik tanpa gejala. Gejala terjadi bahkan pada saat istirahat, jika aktivitas fisik dilakukan, gejala meningkat.
  • Komplikasi

Adapun beberapa komplikasi decompensasi cordis menurut, Taqiyah Bararah (2013):

  1. Kerusakan atau kegagalan ginjal.

Gagal jantung dapat mengurangi aliran darah ke ginjal, yang akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal jika tidak di tangani. Kerusakan ginjal dari gagal jantung dapat membutuhkan dialisis untuk pengobatan.

  • Masalah katup jantung.

Gagal jantung menyebabkan penumpukan cairan sehingga dapat terjadi kerusakan pada katup jantung.

  • Kerusakan hati.

Gagal jantung dapat menyebabkan penumpukan cairan yang menempatkan terlalu banyak tekanan pada hati. Cairan ini dapat menyebabkan jaringan parut yang mengakibatkan hati tidak  dapat berfungsi dengan baik.

  • Serangan jantung dan stroke.

Karena aliran darah melalui jantung lebih lambat pada gagal jantung dari pada di jantung yang normal, maka semakin besar kemungkinan anda akan mengembangkan pembekuan darah, yang dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung atau stroke.

  • Konsep Dasar Kebutuhan Oksigenasi (Pada pasien Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung)
  • Definisi Oksigenasi

Oksigenasi adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. (Haswita, 2017)

  • Proses Oksigenasi

Poses oksigenasi melibatkan sistem pernafasan dan kardiovaskuler. Prosesnya terdiri dari 3 tahapan yaitu:

  1. Ventilasi merupakan proses pertukaran udara antara atsmosfer dengan alveoli. Masuknya O2 atmosfer yang terjadi saat respirasi(inspirasi-ekspirasi)  (wagiran, 2015).
  2. Difusi gas merupakan proses pertukaran gas oksigen dengan karbon dioksida antara alveoli dengan darah pada membran kapiler alveolar paru  (wagiran, 2015).
  3. Transportasi gas merupakan perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah  (wagiran, 2015).
  4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi
  5. Faktor fisiologi
  6. Menurunnya kemampuan mengikat Oksigen seperti pada anemia.
  7. Menurunnya konsentrasi Oksigen yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran pernafasan bagian atas, peningkatan sputum yang berlebihan pada saluran pernafasan (heriana, 2014).
  8. Faktor perilaku
  9. Nutrisi: misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia, sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkan arteriosklerosis.
  10. Aktivitas fisik: latihan akan meningkatkan kebutuhan oksigen.
  11. Merokok: nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan koroner.
  12. Alkohol dan obat-obatan: menyebabkan asupan nutrisi dan Fe (zat besi) menurun yang mengakibatkan menurunan hemoglobin. Alkohol menyebabkan depresi pusat pernapasan.
  13. Kecemasan: menyebabkan metabolisme meningkat (heriana, 2014).
  14. Faktor lingkungan: Tempat kerja (polusi), suhu lingkungan, ketinggian tempat dari permukaan laut (heriana, 2014).
  15. Faktor perkembangan
  16. Bayi prematur, yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan
  17. Bayi dan balita, adanya resiko infeksi saluran pernafasan akut.
  18. Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernafasan dan merokok
  19. Dewasa muda dan pertengahan, diet yang tidak sehat, kurang aktifitas, stres yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru
  20. Dewasa tua adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun (heriana, 2014).
  21. Prubahan Fungsi Jantung yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi
  22. Gangguan konduksi: seperti distritmia (takikardi/bradikardi).
  23. Perubahan kardiak keluaran (cardiac output): seperti pada pasien decompensasi cordis menimbulkan hipoksia jaringan.
  24. Kerusakan fungsi katup seperti pada stenosis, obstruksi, regurgitasi darah yang mengakibatkan ventrikel bekerja lebih keras.
  25. MCI mengakibatkan kekurangan pasokan darah dari arteri koroner dan miokardium (heriana, 2014).


  • Penghitung Kebutuhan Cairan Berdasarkan Rumus Holliday dan Segard:

Adapun beberapa perhitungan kebutuhan cairan menurut, Haswita (2017) sebagai berikut:

  1. Pada Orang Dewasa.
BB 10 Kg pertama = 1 liter cairan BB 10 Kg kedua = 0,5 liter cairan BB >> 10 Kg = 20 ml x sisa BB
  • Berdasarkan Berat Badan Bayi dan Anak-Anak.
4 ml/kgBB/jam = Berat badan 10 kg pertama 2 ml/kgBB/jam = Berat badan 10 kg kedua 1 ml/kgBB/jam = Sisa berat badan selanjutnya
  • Berdasarkan Umur, tapi BB tidak diketahui.
>  1 tahun = 2n + 8 (n adalah umur dalam tahun) 3-12 bulan = n + 9 (n adalah usia dalam bulan) Catatan: jika terdapat demam (tambahkan cairan sebanyak 10% setiap kenaikan suhu 1°C demam).
  • Penghitungan Insensible Water Loss.
Usia Besar IWL (mg/kg/BB/hari)
Bayi baru lahir Bayi Anak-anak Remaja Dewasa 30 50-60 40 30 20
Tabel  2.1 Tabel perhitungan IWL menurut, (Haswita, 2017)  
  • Konsep Asuhan Keperawatan

2.4.1 Pengkajian

  1. Identitas.

Penyakit decompensasi cordis dapat terjadi pada laki laki maupun perempuan, namun laki laki memiliki faktor resiko yang lebih tinggi, biasanya klien berusia lebih dari 40 tahun (Purbianto, 2013).

  • Keadaan Umum.

Pada pemeriksaan keadaan umum klien gagal jantung biasanya didapatkan kesadaran yang baik atau compos mentis dan akan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi sistem saraf pusat (Muttaqin, Arif, 2012)

  • Riwayat Kesehatan.
  • Keluhan utama: Klien mengeluh sesak nafas, batuk, mudah lelah, dan merasakan gelisah (Sulistyowati, 2015).
  • Riwayat Penyakit Sekarang: gejala yang ditimbulkan yaitu klien akan merasakan, dispneu, batuk, mudah lelah, gelisah, sianosis (Karson, 2016).
  • Riwayat Penyakit Dahulu: klien dengan gagal jantung biasanya memiliki riwayat penyakit hipertensi renal, angina, infark miokard kronis, diabetes melitus, bedah jantung, dan distritmia (Udjianti, 2013).
  • Riwayat Penyakit Keluarga: riwayat didalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok (Padila, 2012).
  • Pemeriksaan B1-B6
  • B1 (Breathing): pengkajian yang didapat dengan adanya tanda kongesti vaskular pulmonal adalah dispnea, ortopnea, dispnea noktural paroksimal, batuk, dan edema pulmonal akut. Crackles atau ronki basah alus secara umum terdengar pada dasar posterior paru. Hal ini dikenali sebagai bukti gagal ventrikel kiri (Muttaqin, Arif, 2012).
  • B2 (Bleedlng).

Inspeksi: klien mengeluh lemah, mudah lelah, apatis, letargi, kesulitan berkonsentrasi, defisit memori, dan penurunan toleransi latihan, merupakan gejala yang timbul pada penurunan curah jantung. Pada inspeksi ditemukan distensi vena jugularis akibat ventrikel kanan tidak memompa darah, dan ditemukan edema tungkai dan terdapat pitting edema (Muttaqin, Arif, 2012).

Palpasi: adanya perubahan nadi, takikardia, mencerminkan respon terhadap perangsangan saraf simpatis. Penurunan yang bermakna dari curah jantung sekuncup dan adanya vasokonstriksi perifer mengurangi tekanan nadi (perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik), sehingga menghasilkan denyut yang lemah. Jipotensi sistolik ditemukan pada gagal jantung yang lebih berat. Selain itu, pada gagal jantung kiri yang berat akan timbul pulsus alternans (suatu perubahan kekuatan denyut arteri) (Muttaqin, Arif, 2012).

Auskultasi: tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan isi sekuncup. Tanda fisik yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri adalah bunyi jantung ke 3 dan ke 4 (S3,S4) serta crackles pada paru-paru (Muttaqin, Arif, 2012).Perkusi: batas jantung ada pergeseran yang menandakan adanya hipertrofi jantung (kardiomegali) (Muttaqin, Arif, 2012). 

  • B3 (Brain): kesadaran biasnya compos mentis, didapatkan sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat, wajah tampak meringis, menangis, dang meregang (Muttaqin, Arif, 2012)
  • B4 (Bladder): adanya oliguria merupakan tanda awal dari syok kardiogenik. Dan adanya edema ekstermitas menandakan ada nya retensi cairan yan g parah (Muttaqin, Arif, 2012).
  • B5 (Bowel): klien biasanya didapatkan mual dan muntah, penurunan nafsu makan akibat pembesaran vena dan stasis vena di dalam rongga abdomen, serta penurunan berat badan. Selain itu terjadi hepatomegali akibat pembesaran vena dihepar dan pada akhirnya menyebabkan asites (Muttaqin, Arif, 2012).
  • B6 (Bone ): klien biasanya didapatkan kulit pucat dan dingin yang diakibatkan oleh vasokonstriksi perifer. Juga mudah lelah akibat penurunan curah jantung sehingga menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menu runnya pembuangan sisa hasil katabolisme (Muttaqin, Arif, 2012).
  • Pola Aktivitas Sehari-hari
  • Pola nutrisi dan metabolisme.

Terdapat mual, muntah, kehilangan nafsu makan, perubahan berat badan  pemberian diet rendah natrium dan pengurangan asupan lemak (Padila, 2012).

  • Pola eliminasi.

Penurunan volume urine, urine yang pekat, nokturia, diare, dan konstipasi (Baskoro, 2018).

  • Pola aktivitas dan istirahat.

Klien mengalami dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saata melakukan aktivitas ataupun istirahat (Padila, 2012).

  • Pola Integritas Ego.

Pusing, pingsan, kesakitan, letargi, bingung, disorientasi, peka (Baskoro, 2018).

  • Personal Hygine.

Klien akan mengalami perubahan dalam perawatan diri selama keadaan sakit, sesuai dengan tingkat kesadaran dan kekuatan otot klien dalam melakukan aktivitas (Padila, 2012).

  • Pola Neurosensori.

Klien akan mengalami kelemahan, perubahan perilaku dan mudah tersinggung (Baskoro, 2018).

  • Pola Kenyamanan.

Klien mengalami perubahan dalam kenyamanan biasanya karena nyeri dan sesak yang timbul pada klien dengan kasus gagal jantung (Baskoro, 2018).

  • Pola Interaksi sosial

Klien akan mengalami perubahan aktivitas sosial berkurang (Baskoro, 2018).

  1. Pola Spiritual.

Cemas, ketakutan, gelisah, marah, dan peka, stres berhubungan dengan penyakitnya, sosial, dan finansial (Baskoro, 2018).

2.4.2 Pemeriksaan Penunjang

Adapun beberapa pemeriksaan yang dilakukan pada pasien decompensasi cordis, menurut Karson (2016):

  1. EKG

Pemeriksaan EKG dapat memberikan informasi yang sangat penting, meliputi frekuensi debar jantung, irama jantung, sistem konduksi dan kadang etiologi dari gagal jantung itu sendiri.

Pada  elektrokardiografi  12  lead  didapatkan gambaran  abnormal  pada  hampir  seluruh  penderita dengan  gagal  jantung (90%), meskipun  gambaran  normal dapat  dijumpai  pada  10%  kasus.  Gambaran  yang sering  didapatkan  antara  lain  gelombang  Q, abnormalitas  ST-T,  hipertrofi  ventrikel  kiri, bundle  branch  block, fibrilasi  atrium, gangguan konduksi dan aritmia.

  • Tes Laboratorium Darah

Enzym hepar: meningkat dalam gagal jantung/ kongesti.

Elektrolit: kemungkinan berubah karena perpindahan cairan, penurunan fungsi ginjal.

Oksimetri Nadi: kemungkinan situasi oksigen rendah.

AGD: Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2.

Albumin: mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein.

  • Radiologis

Sonogram Ekokardiogram, dapat menunjukkan pembesaran bilik perubahan dalam fungsi struktur katup, penurunan kontraktilitas ventrikel.

Scan jantung: tindakan menyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding.

Rontgen dada: menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan mencerminkan dilatasi atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau peningkatan tekanan pulmonal.

2.4.3 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan decompensasi cordis berdasarkan kelas menurut New York Heart Association (NYHA):

  1. Kelas I: Non Farmakologi, meliputi diet rendah garam, batasi cairan, menurunkan berat badan, menghindari alkohol dan rokok, aktivitas fisik, manajemen stress.
  2. Kelas II,III: Terapi pengobatan, meliputi : diuretic, vasodilator, ace inhibator, digitalis, dopamineroik stress.
  3. Kelas IV: Kombinasi diuretic, digitalis,  ACE inhibator, seumur hidup.

Penatalaksanaan decompensasi cordis menurut (Sulistyowati, 2015, hal. 63) meliputi :

  1. Tirah baring: dilakukan untuk menurunkan kerja jantung.
  2. Diuretik: pembatasan garam dan air serta diuretik akan menurunkan preload dan kerja jantung (Furosemid 40 mg/hari atau bumetamid 1 mg/hari biasanya efektif).
  3. Morfin: dapat berefek vasodilatasi pembuluh darah perifer menurunkan aliran balik vena dan kerja jantung.
  4. Lanotropik: memperbaiki kontraktilitas jantung dan medilatasi ginjal.
  5. Digitalis: untuk meningkatkan kontraktilitas jantung.
  6. Inhibitor ACE dapat menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.
  7. Bloker β seperti bisoprolol, karvedilol yang dimulai dari dosis yang sangat rendah dan bisa ditambahkan untuk menurunkan aktivitas simpatis yang berlebihan dan mendorong remodeling otot jantung.
  8. Digoksin diindikasikan untuk mengendalikan fibrilasi atrium yang terjadi bersamaan.

Penatalaksanaan latihan Slow Deep Breathing menurut Rahayu (2015), langkah-langkah melakukan latihan slow deep breathing yaitu sebagai berikut:

  1. Atur pasien dengan posisi duduk atau berbaring.
  2. Kedua tangan pasien diletakkan di atas perut.
  3. Anjurkan melakukan nafas secara perlahan dan dalam melalui hidung dan tarik napas selama tiga detik, rasakan perut mengembang saat menarik napas.
  4. Tahan nafas selama tiga detik.
  5. Kerutkan bibir, keluarkan melalui mulut dan hembuskan napas secara perlahan selama enam detik. Rasakan perut bergerak ke bawah.
  6. Ulangi langkah 1 sampai 5 selama 15 menit.
  7. Latihan slow deep breathing dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

2.4.4 Diagnosa Keperawatan

  1. Penurunan curah jantung berhubungan  dengan penurunan kontraktilitas ventrikel kiri, perubahan frekuensi, irama, dan konduksi elektrikal (Muttaqin, Arif, 2012).
    1. Definisi : Ketidak adekuatan pompa darah oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh (Wilkinson, 2016).
      1. Batasan karakteristik: Gangguan frekuensi dan irama jantung: Aritmia (takikardia, brakikardia) Perubahan pola EKG Palpitasi.

Gangguan preload : Edema, keletihan, Peningkatan atau penurunan tekanan vena sentral (CVP), Peningkatan atau penurunan tekanan arteri pulmonal, distensi vena jugularis, Murmur, Kenaikan berat badan (Wilkinson, 2016)

Gangguan afterload : Kulit dingin dan berkeringat : denyut perifer menurun, dyspnea, peningkatan atau penurunan tahanan vascular pulmonal, peningkatan atau penurunan tahanan vascular sistemikOliguria, pengisian ulang kapiler memanjang, perubahan warna kulit, variasi pada hasil pemeriksaan tekanan darah (Wilkinson, 2016)

Gangguan kontraktilitas Bunyi crackles, batuk, ortopnea atau dyspnea, nocturnal paroksimal, penurunan fraksi injeksi, indeks volume sekuncup (SVI, stroke volume index), indeks kerja ventrikel kiri (Wilkinson, 2016).

  • Faktor yang berhubungan : 1) Gangguan frekuensi atau irama jantung, 2) gangguan preload, 3) gangguan afterload, 4) gangguan kontraktilitas (Wilkinson, 2016)
    • Pola napas tidak efektif berhubungan dengan pengembangan paru yang tidak optimal, kelebihan cairan di paru (Muttaqin, 2012)
  • Definisi: inspirasi dan/ ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat (Muttaqin, Arif, 2012)
  • Batasan karakteristik: Meliputi perubahan kedalaman bernapas, perubahan ekspansi dada, bradipnea/ takipnea, penurunan tekanan ekspirasi, inspirasi, ventilasi semenit, dan kapasitas vital, dispnea, pernapasan cuping hidung, ortopnea, fase ekspirasi memanjang, pernapasan bibir, dan penggunaan otot eksesorius untuk bernapas. (Pranata, 2017)
  • Faktor yang berhubungan: peningkatan tekanan pulmonal, dan sindrom hipoventilasi. (Pranata, 2017)
    • Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan curah jantung (Pranata, 2017)
  • Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke perifer yang dapat mengganggu kesehatan (Pranata, 2017).
  • Batasan karakteristik: meliputi tidak adanya nadi, perubahan fungsi motorik, perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, kelembapan, suhu) waktu pengisian kapiler >3 detik, warna tidak kembali ke tungkai ketika tungkai diturunkan, edema, nyeri ekstermitas, parestesia, dan warna kulit pucat saat elevasi (Pranata, 2017).
  • Faktor yang berhubungan: penurunan curah jantung (Pranata, 2017).
    • Nyeri akut
      • Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
      • Penyebab : inflamasi, iskemia pada jantung
      • Gejala dan tanda mayor
  • Subjektif : Mengeluh nyeri
  • Objektif : a) tampak meringis, b) bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri), c) gelisah, d) frekuensi nadi meningkat, e) Sulit tidur.
    • Gejala dan tanda minor
  • Subjektif : Tidak tersedia
  • Objektif : a) tekanan darah meningkat, b) pola nafas berubah, c) nafsu makan berubah, d) proses berpikir terganggu e) menarik diri, f) berfokus pada diri sendiri, g) diaphoresis.
  • Kondisi klinis terkait : Sindrom koroner akut.
    • Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan dengan kebutuhan sekunder penurunan curah jantung (Muttaqin, Arif, 2012)
      • Definisi: ketidak sanggupan saat beraktifitas (PPNI, 2017).
        • Batasan karakteristik: 1) subjektif: a) ketidak nyamanan atau sesak saat ber aktifitas, b) melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal, 2) objektif: a) frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas, b) perubahan EKG yang menunjukkan aritmia (PPNI, 2017).
        • Faktor yang berhubungan: 1) tirah baring dan imobilitas, 2) kelemahan umum, 3) ketidakseimbangan antara suplai dan ke butuhan (PPNI, 2017).

2.4.5  Intervensi Keperawatan

  1. Penurunan Curah jantung

Adapun intervensi penurunan curah jantung menurut (Muttaqin, Arif, 2012).

  1. Tujuan

Setelah dilakukan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan curah jantung meningkat, dengan kriteria hasil:

  • Kriteria hasil

Klien akan melaporkan penurunan episode dyspnea berperan dalam aktivitas mengurangi beban kerja jantung tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg), nadi 80 kali/menit, tidak terjadi aritmia, denyut jantung dan irama jantung teratur, CRT kurang dari 3 detik dan produksi urine >30 ml/jam.

  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification)
  • Atur posisi tirah baring yang ideal, kepala tempat tidur harus dinaikkan 20 sampai 30 cm (8-10 inci) atau klien di dudukkan di kursi.

Rasional: Mengurangi kesulitan bernapas dan mengurangi jumlah darah yang kembali ke jantung sehingga dapat mengurangi kongesti paru.

  • Kaji dan laporkan tanda penurunan curah jantung.

Rasional: Kejadian mortalitas dan mobilitas sehubungan dengan MI yang lebih dari 24 jam pertama.

  • Catat bunyi jantung.

Rasional: S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya karja pompa, irama gallop umum (S3 dan S4) di hasilkan sebagai aliran darah ke dalam serambi yang distensi murmur dapat menunjukkan inkompetensi/ stenosis mitral.

  • Priksa keadaan klien dengan mengauskultasi nadi apikal; kaji frekuensi, irama jantung.

Rasional: biasanya terjadi takikardia meskipun pada saat istirahat untuk mengompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel, disritmia umum berkenaan dengan GJK meskipun lainnya juga terjadi.

  • Pantau adanya keluaran urine, catat keluaran dan kepekatan/ konsentrasi urine.

Rasional: ginjal berespons untuk menurunkan curah jantung dengan menahan cairan dan natrium, keluaran urine biasanya menurun selama tiga hari karena perpindahan cairan ke jaringan tetapi dapat meningkat pada malam hari sehingga cairan berpindah kembali ke sirkulasi bila pasien tidur.

  • Berikan oksigen tambahan dengan nasal kanul/ masker sesuai dengan indikasi.

Rasional: Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokardium guna melawan efek hipoksia/ iskemia.

  • Kolaborasi untuk pemberian terapi pengobatan sejenis digitalis dan lanotropik.

Rasional: Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.

  • Pantau seri EKG dan perubahan foto dada.

Rasional: Depresi segmen ST dan datarnya gelombang T dapat terjadi karena peningkatan kebutuhan oksigen. Foto dada dapat menunjukkan pembesaran jantung dan perubahan kongesti pulmonal.

  • Pola nafas tidak efektif

Adapun intervensi pola nafas tidak efektif menurut (Muttaqin, Arif, 2012).

  1. Tujuan

Setelah dilakukan tindakan selama 3×24 jam tidak terjadi perubahan pola napas dengan kritera hasil:

  • Kreteria hasil: Klien tidak sesak napas, RR dalam batas normal 16-20 kali/menit, respon batuk berkurang.
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification)
  • Atur posisi semi fowler.

Rasional:mengurangi gejala sesak nafas yang timbul akibat kekurangan oksigenasi.

  • Pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien.

Rasional: mengurangi resiko lebih lanjut dan mencegah terjadinya komplikasi lebih parah.

  • Beri terapi oksigen sesuai dengan intruksi dokter.

Rasional: mengurangi sesak nafas dan mengoptimalkan oksigenasi  akibat decompensasi cordis.

  • Kolaborasi dengan pemberian diet tanpa garam.

Rasional: Natrium meningkatkan retensi cairan dan meningkatkan volume plasma yang berdampak terhadap peningkatan beban kerja jantung dan akan membuat kebutuhan miokardium meningkat.

  • Ajarkan teknik slow deep breathing pada klien decompensasi cordis.

Rasional: mengoptimalkan kebutuhan oksigenasi serta merileksasikan klien sehingga kebutuhan oksigenasi tercukupi dengan benar.

  • Pantau data laboratorium, elektrolit kalium.

Rasional: Hipokalemia dapat membatasi keefektifan terapi.

  • Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer.

Adapun intervensi Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer menurut (Udjianti, 2013).

  1. Tujuan:

Setelah dilakukan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan perfusi jaringan perifer efektif, dengan kriteria hasil:

  • Keriteria hasil: Keluhan pada data penunjang berkurang atau hilang.
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification)
  • Atur posisi tidur yang nyaman (fowler/high fowler).

Rasional: Posisi tersebut memfasilitasi ekspansi paru.

  • Bed rest total dan mengurangi aktivitas yang merangsang timbulnya respons valsava /vegal manuver. Catat reaksi klien terhadap aktivitas yang dilakukan.

Rasional: Pembatasan aktivitas dan istirahat mengurangi konsumsi oksigen miokard dan beban kerja jantung.

  • Monitor tanda-tanda vital dan denyut apikal setiap jam (pada fase akut), dan kemudian tiap 2-4 jam bila fase akut berlalu. Monitor dan catat tanda disritmia, auskultasi perubahan bunyi jantung.

Rasional: Tanda dan gejala tersebut membantu diagnosis gagal jantung kiri. Disritmia menurunkan curah jantung. BJ 3 dan BJ4  Gallop’s akibat dari penurunan pengembangan ventrikel kiri dampak dari kerusakan katup jantung.

  • Kolaborasi dengan tim gizi untuk memberikan diet rendah garam, rendah protein, dan rendah kalori (bila klien obesitas) serta cukup selulosa.

Rasional: Diet rendah garam mengurangi retensi cairan eksraseluler; selulosa memudahkan buang air besar dan mencegah respons valsava saat buang air besar.

  • Lakukan gerak secara pasif (bila fase akut berlalu) dan tindakan lain untuk mencegah tromboemboli.

Rasional: Latihan gerak yang diprogramkan dapat mencegah tromboemboli pada vaskular perifer.

  • Nyeri akut
    • Kriteria Hasil: 1) memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan, 2) mempertahankan tingkat nyeri pada atau kurang (dengan skala 0-10), 3) melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis, 4) menggunakan tindakan meredakan nyeri dengan analgesic dan nonanalgesik secara tepat, 4) tidak mengalami gangguan dalam frekuensi pernapasan, frekuensi jantung, atau tekanan darah, 5) melaporkan pola tidur yang baik, 6) raut wajah terlihat rileks (Wilkinson, 2016).
  • Rencana Keperawatan
  • Minta pasien untuk menilai skala nyeri

Rasional: Mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan

  • Monitor tanda – tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, RR)

Rasional: Mengetahui adanya perubahan tanda – tanda vital pasien

  • Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

Rasional: Memungkinkan pasien beristirahat

  • Ajarkan pasien teknik relaksasi

Rasional: Membantu dalam menurunkan respon nyeri

  • Berikan posisi semi fowler

Rasional: Menurunkan risiko nyeri bertambah berat

  • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat

Rasional: Obat beta blocker mengobati nyeri dan merilekskan pembuluh darah dan mencegah serangan jantung (Wilkinson, 2016).

  •  Intoleransi aktivitas

Adapun intervensi intoleransi aktivitas menurut (Udjianti, 2013).

  1. Tujuan:  Setelah dilakukan keperawatan selama 3×24 jam, diharapkan aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas., dengan kriteria
  2. Kriteria hasil: Klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala yang berat, terutama mobilisasi di tempat.
  3. Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification)
  4. Catat frekuensi jantung; irama dan perubatan TD, selama dan sesudah aktivitas.

Rasional: Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan adanya penurunan oksigen miokard.

  • Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.

Rasional: Menurunkan kerja miokard atau konsumsi oksigen.

  • Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.

Rasional: Mengetahui fungsi jantung bila dikaitkan dengan aktivitas.

  • Pertahankan pemberian oksigen sesuai kebutuhan.

Rasional: Meningkatkan oksigenasi jaringan.

  • Kaji EKG, dispnea, sianosis, keja dan frekuensi napas, serta keluhan subjektif.

Rasional: Melihat dampak dari aktivitas terhadap jantung.

  • Kaji kekuatan otot.

Rasional: mengetahui kekuatan otot klien dalam melakukan aktivitas.

  • Berikan diet sesuai kebutuhan (pembatasan air dan Na).

Rasional: Mencegah retensi cairan dan edema akibat penurunan kontraktilitas jantung.

2.4.6 Implementasi

Implementasi yang dilakukan untuk menangani pasien decompensasi cordis yaitu dengan 1) Mempertahankan curah jantung, 2). Mengatur gangguan pertukaran gas supaya efektif. 3) Mengurangi sensasi nyeri pasien   4) Mengatur kelebihan volume cairan, 5) Memberikan pendidikan kesehatan untuk kepatuhan pengobatan (Setyaningsih, 2015).

Implementasi difokuskan pada pemulihan dan pencegahan terjadinya penurunan curah jantung yang lebih buruk. Intervensi awal diperlukan untuk hasil akhir yang baik (H, Irwan Luki, 2016).

2.4.7 Evaluasi

Hasil yang diharapkan pada proses keperawatan klien dengan decompensasi cordis yaitu: a) Menunjukkan tidak adanya penurunan curah jantung, b) Terpenuhinya aktifitas sehari hari, c) menunjukkan tidak ada gangguan perfusi perifer, d) Tidak sesak, e) tidak nyeri dada, f) Memahami penyakit dan tujuan keperawatan (Muttaqin, Arif, 2012)

BAB III

METODE PENELITIAN

  • Desain penelitian.

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian yang dapat menjawab beberapa issue atau objek akan sesuatu fenomena (Nursalam, 2008, hal. 117).

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan tujuan untuk mengeksplorasi komparasi/ perbandingan masalah asuhan keperawatan pada klien yang mengalami decompensasi cordis dengan penurunan curah jantung di RSUD Genteng.

  • Batasan istilah

Penelitian ini difokuskan pada Pada Klien Decompensasi Cordis dengan Penurunan Curah Jantung.

Decompensasi Cordis adalah kegagalan jantung memompa cukup darah guna mencukupi kebutuhan tubuh (Awan Hariyanto, 2015). Bila ditemukan kegagalan  jantung dalam memompa darah  dalam  mencukupi kebutuhan sel-sel tubuh akan nutrient dan oksigen secara inadekuat pada penderita Decompensasi Cordis akan  mempengaruhi efisiensi pemompaan darah dan dapat mengakibatkan penurunan curah jantung (Santoso, 2012).

Penurunan curah jantung adalah ketidak adekuatan pompa darah oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh (Wilkinson, 2016).

  • Partisipan

Informasi dalam penelitian adalah orang atau pelaku yang benar-benar tahu dan menguasai masalah, serta terlibat langsung dalam masalah.                                                                                                                                                 Metode kuantitatif , maka peneliti sangat erat kaitanya dengan faktor-faktor konstektual (Rungin, 2017, hal. 136). Maksud dari informasi adalah untuk meggali informasi dan rancangan teori yang dibangun. Informasi dalam penelitian kuantitatif yang berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum. Partisipan pada studi kasus ini adalah:

  1. Pasien

Pasien decompensasi cordis dengan penurunan curah jantung yang memiliki data subjektif meliputi keluhan utama, riwayat penyakit sebelumnya dan pola kebiasaan sehari-hari. Dan data objektif dari pemeriksaan fisik

  • Keluarga klien

Data yang diperoleh meliputi data genogram, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat lingkungan serta kebiasaan.

  • Petugas kesehatan
  • Perawat

Data yang diperoleh dari perawat meliputi tentang data kondisi pasien selama dirawat dirumah sakit yang meliputi pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan fisik pasien.

  • Dokter

Data yang diperoleh dari dokter meliputi terapi slow deep breathing  dan terapi diuretic, digitalis,  ACE inhibator,  diberikan kepada pasien, patofisiologis penyakit pasien selama dirumah sakit. 

  • Pemeriksaan penunjang

Data yang diperoleh dari petugas laboratorium meliputi pemeriksaan EKG, X Ray dada, test fungsi paru.

  • Ahli gizi

Dengan menanyakan diet yang sesuai dengan pasien decompensasi cordis.

  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Lokasi penelitian: Tempat penelitian di ruang Intensive Care Unit  RSUD Genteng.
  • Waktu penelitian: Dilaksanakan pada tanggal 08 Juli-03 Agustus 2019. Sedangkan dalam proses pelaksanaan asuhan keperawatan tersebut memerlukan waktu setiap pasien minimal 3 hari.
  • Pengumpulan data

Untuk mengumpulkan dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode tertentu sesuai dengan tujuannya. Ada berbagai metode yang telah kita kenal antara lain wawancara, pengamatan (observasi), dan dokumentasi. Metode yang dipilih untuk setiap variabel tergantung pada berbagai faktor terutama jenis data dan ciri responden. Untuk data historis misalnya tidak bisa ditemukan dengan observasi, tetapi dimungkinkan dengan dokumentasi dan wawancara. Metode pengumpulan data tergantung pada karakteristik data variabel, maka metode yang digunakan tidak selalu sama untuk setiap variabel (Gullo, 2000, hal. 117). Berikut ini adalah contoh metode pengumpulan data pada suatu penelitian:

  1. Pengamatan (observasi)

Pengamatan (observasi) adalah metode pengumpulan data yang dimana peneliti atau kalobatornya mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian terhadap peristiwa-peristiwa itu bisa dengan melihat, mendengar, merasakan yang kemudian dicatat subjektif (Gullo, 2000, hal. 117).  Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan observasi dan pemeriksaan fisik pada klien dengan teknik pengkajian primer, pengkajian sekunder, pemeriksaan B1-B6.

  • Wawancara

Wawancara atau interviw adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau menggunakan pedoman wawancara. Inti dari metode wawancara ini bahwa disetiap penggunaan metode ini selalu ada beberapa pewawancara, responden, materi wawancara dan pedoman wawancara (Rungin, 2017, hal. 136). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti berisi tentang identitas klien, keluhan utama, RPS, RPD, RPK, genogram dan  pola kebiasaan sehari-hari.

  • Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaan. Dokumentasi dapat berupa risalah atau laporan, pengumuman dan instruksi. Dokumen ekstern berupa bahan-bahan informasi yang dikeluarkan suatu lembaga atau pemberitahuan (Rungin, 2017, hal. 156). Study dokumentasi didapatkan dari pemeriksaan diagnostic penunjang penyakit decompensasi cordis yaitu Ekokardiografi, Rontgen dada, Elekrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan GDA.

  • Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data dimaksudkan untuk menguji kualitas data atau informasi yang diperoleh dalam penelitian sehingga menghasilkan data yang validasi.

  1. Memperpanjang waktu pengamatan

Perpanjang pengamatan ini berarti penelitian kembali ke lapangan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru (Nursalam, 2008).

  • Triagulasi

Di ibaratkan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber, teknik dan waktu terdapat 3 metode triagulasi yaitu:

  1. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber adalah untuk menguji kreadibilitas dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Nursalam, 2008).

  • Triangulasi teknik

Triangulasi tenkik adalah menguji kreadibilitas  dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda (Nursalam, 2008).

  • Triangulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan tehnik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel (Nursalam, 2008).

  • Analisa Data
  • Mengumpulkan data yang sesuai dengan tema

Untuk mengumpulkan dari sampel penelitian, dilakukan dengan metode tertentu sesuai dengan tujuannya. Ada berbagai metode yang telah kita kenal antara lain wawancara, pengamatan (observasi), dan dokumentasi. Metode yang dipilih untuk setiap variabel tergantung pada berbagai faktor terutama jenis data dan ciri responden  (Gullo, 2000).

  • Mereduksi Data

Suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, mengorganisasi data dalam satu cara, dimana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasi (Yusuf, 2017).

  • Penyajian Data

Penyajian data dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks naratif, kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan mengaburkan (Gullo, 2000).  

  • Etika Penelitian

Etika penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi:

  1. Persetujuan (informed consent)

Informend consent berarti partisipasi punya informasi yang adekuat tentang penelitian, mampu memahami informasi, bebas menentukan pilihan, memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut atau tidak ikut partisipasi dlam penelitian secara sukarelawan (Swarjana, 2012).

  • Tanpa nama (anoniminity)

Semua penelitian yang melibatkan manusia akan selalu mengganggu kehidupan pribadi partisipasi (Swarjana, 2012).

  • Kerahasiaan (confidientialy)

Harus dipastikan bahwa privacy partisipasi tetap dilindungi sepanjang waktu, kalau anonymity dapat menjamin maka harus dilakukan (Swarjana, 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *