ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR CRURIS POST OP ORIF HARI KE-0 DENGAN NYERI AKUT DI RUANG SERUNI RSD dr. SOEBANDI JEMBER OLEH: SANTI ANA DEWI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Peristiwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab semakin meningkatnya  angka kejadian fraktur di Indonesia (Rois, 2016). Open Reduction Internal Fixation (ORIF) merupakan intervensi  untuk mempertemukan serta memfiksasi kedua ujung fregment tulang yang patah (Muttaqin, 2013, hal. 341). Setelah dilakukan proses tindakan pembedahan yang dirasakan pasien adalah nyeri. Nyeri operasi fraktur cruris akibat kompresi saraf  atau pergerakan fregmen tulang  menyebabkan pasien sulit memenuhi aktivitas sehari-hari (Muttaqin, 2013, hal. 142) .

Berikut akan disajikan angka kejadian fraktur di Indonesia, Jawa Timur, dan Kabupaten Jember pada tabel 1.1 dibawah ini:

Tabel 1. 1 Angka Kejadian Fraktur di Indonesia, Jawa Timur, dan Kabupaten Jember  Pada Tahun 2016-2018

Tahun Indonesia Jawa Timur Kab. Jember
2016 1.775 kasus 1.422 jiwa 122 jiwa
2017 2.230 kasus 2.065 jiwa 104 jiwa
2018 2.387 kasus 3.390 jiwa 754 jiwa

Sumber:    (Riskedas, 2016),  (Riskedas, 2017),   (Riskedas, 2018),  (Rois, 2016),  (Prasetyo, 2018),  (Handayani, 2018),  (Nurdiati, 2017),    (Purwaningsi,  2018), (Wahyunik, 2018).

Berdasarkan tabel 1.1 dapat disimpulkan bahwa angka kejadian fraktur di Indonesia, Jawa Timur, dan Kabupaten Jember setiap tahun mengalami peningkatan, dimana angka kejadian fraktur tertinggi terjadi pada tahun 2018.

Fraktur cruris terjadi akibatterputusnya kontonuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula (Riyan, 2018). Luka yang ditimbulkan fraktur dapat terbuka maupun tertutup (Rosyidi k, 2013, hal. 37). Tindakan selanjutnya ORIF yang tindakanya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, sebagai fiksasi atau penyambung tulang yang patah (Muttaqin, 2013, hal. 341). Tindakan ORIF akan mengenai serabut saraf serta tulang dan mengakibatkan atau merangsang pengeluaran histamin, bradikinin dan prostaglandin yang akan  merangsang A-delta untuk menghantarkan rangsangan nyeri sehingga menimbulkan nyeri akut pada pasien (Putri, 2013, hal. 238).

Penatalaksanaan medis pada fraktur dengan dasar konsep rekoqnisi, retensi dan reposisi (Rosyidi k, 2013, hal. 41-42). Penatalaksanaan pada menejemen nyeri ada dua teknik yaitu secara farmakologi dan non farmakologi. Secara farmakologi dengan cara pemberian obat anti inflamasi nonsteroid dan analgetik non narkotik (Alimul, 2009, hal. 220-221). Non farmakologi dengan tanpa obat-obatan yaitu dengan memberikan sokongan sendi atas dan bawah fraktur bila bergerak atau membalik, sokong fraktur dengan bantal atau gulungan selimut, pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit (Margareth, 2019, hal. 53). 

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus kedalam penulisan ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada  Klien Fraktur Cruris Post Op Orif Hari Ke-0 Dengan Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember”

1.2  Batasan Masalah

Batasan masalah yang akan dilakukan adalah Asuhan Keperawatan Pada Klien Fraktur Cruris Post Op ORIF Hari Ke-0 dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 

1.3  Rumusan Masalah

Bagaiman Asuhan Keperawatan Pada Pasien Fraktur Cruris Post Op ORIF  Hari Ke-0 Dengan Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember ?

1.4  Tujuan

1.4.1        Tujuan Umum

Melakukan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami Pasien Fraktur Cruris Post Op ORIF  Hari Ke- 0 dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 

1.4.2        Tujuan Khusus

  1. Melakukan pengkajian pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 
  2. Menetapkan diagnosis keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 
  3. Menyusun perencanaan keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORiF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 
  4. Melakukan tindakan keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 
  5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 

1.5  Manfaat

1.5.1        Manfaat Teoritis

Menambah wawasan dalam ilmu keperawatan mengenai peran perawat dalam upaya memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut Di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember 

1.5.2        Manfaat Praktis

  1. Manfaat bagi responden

Sebagai sumber informasi bagi pembaca pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut

2. Manfaat bagi profesi

Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi perawat dalam meningkatkan asuhan keperawatan yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Konsep Fraktur

2.1.1    Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan tekanan dari luar yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Rosyidi k, 2013, hal. 35).

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan secara jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulng dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya (Riyan, 2018).

Fraktur  adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Kusuma, 2016, hal. 225).

Dapat disimpulkan bahwa fraktur Cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang, terjadi pada tulang tibia dan fibula yang disebabkan oleh trauma langsung.

2.1.2    Etiologi

Menurut Rosyidi  (2013, hal. 35) etiologi fraktur dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Kekerasan langsung

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.

  • Kekerasan tidak langsung

Pada kekerasan tidak langsung biasanya yang terjadi patah adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

  • Kekerasan akibat tarikan otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, dan penekanan, kombinasi dari ketigannya, dan penarikan.

2.1.3    Manifestasi Klinis

Menurut Noor (2016, hal. 450) keluhan nyeri dilutut pada pemeriksaan fisik regional, didapatkan adanya hal-hal berikut:

  1. Look: terdapat adanya memar atau suatu luka pada daerah yang cedera. Lutut terlihat bengkak dan disertai rasa sakit.
  2. Feel: Nyeri tekan pada daerah lutut atau area proksimal cruris.
  3. Move: ketidak mampuan dalam melakukan pergerakan lutut.

Manifestasiklinis pada fraktur juga dapat berupa nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna (Ningsih, 2013, hal. 30). Fraktur juga dapat berupa spasme otot, hilangnya sensasi, dan hasil rongen yang abnormal (Rosyidi k, 2013, hal. 40)

2.1.4    Klasifikasi

Fraktur tertutup adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit atau kulit tidak ditembus oleh fregmen tulang (Ningsih, 2013, hal. 27). Sedangkan, fraktur terbuka adalah terjadinya hubungan antara fregmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit (Rosyidi k. , 2013, hal. 37).

2.1.5    Konsep Operasi ORIF

  1. Definisi

Open Reduction Internal Fixation (ORIF) adalah tindakan invasif bedah fiksasi internal dengan dengan tujuan untuk mempertemukan serta memfiksasi kedua ujung fregmen tulang yang patah dengan menggunakan pin, sekrup, kawat, batang atau lempeng untuk mempertahankan reduksi  (Mutaqin, 2013, hal. 341).

  • Keluhan Post Op ORIF

Keluhan pada pasien post operasi ORIF biasanya meliputi, kesadaran yang belum optimal akibat efek dari anastesi dan kemampuan dalam orientasi lingkungan, pasien cenderung mengalami hipotermi, penurunan peristaltik usus dan penurunan kontrol otot , setelah 6-8 jam kemudian mulai mengeluh nyeri pada area lutut  (Mutaqin 2013, hal. 365-360).

  • Perawatan Pasca Operatif ORIF

Proses keperawatan pasca operatif bedah ORIF merupakan salah satu bagian dari asuhan kepeerawatan perioperatif dimana asuhan terdiri dari:

  1. Asuhan yang diberikan pada pasien dari kamar operasi dan diruang pulih sadar sampai kesadaran pasien optimal
  2. Asuhan lanjutan setelah pasien kembali ke bangsal rawat inap bedah ortopedi untuk dilakukan rawat lanjutan

Pada saat melakukan transportasi pasca beda, perawat perlu mengkaji dan mempertahankan jalan nafas dengan memposisikan kepala dibelakang, dan punggung tangan selalu menilai adanya arus udara yang keluar dari jalan nafas yang menandakan kepatenan jalan nafas optomal (Mutaqin, 2013, hal. 368).

2.1.6    Patofisiologi

Mekanisme cedera atau fraktur juga dapat terjadi dengan trauma tidak langsung seperti akibat adanya daya putar atau puntir yang dapat mengakibatkan fraktur pada tulang kaki dalam tingkatan yang berbeda, pada cedera tidak langsung salah satu dari fregmen tulang dapat menembus kulit (Noor, 2016, hal. 542).

Pada tindakan operasi ORIF pada fraktur dapat mengakibatkan terputusnya kontinuitas tulang dan jaringan sehingga dapat mengakibatkan atau merangsang necosiptor sekitar untuk mengeluarkan histamin, bradikinin dan prostaglandin yang akan merangsang A-delta untuk menghantarkan rangsangan nyeri sehingga menimbulkan  sensasi nyeri dan mengakibatkan Nyeri akut pada pasien (Rosyidi, 2013, hal. 57).

Tindakan operasi ORIF dalam penyembuhan tulang pasien akan dilakukan tindakan pemasangan alat seperti traksi, pen, kawat scrup, dan plat batang logam digunakan untuk mempertahankan fregmen tulang dalam posisinya, hal ini mengakibatkan fungsi ekstermitas terganggu sehingga menimbulkan Gangguan mobilitas fisik (Rosyidi, 2013, hal. 42).

Pada bekas luka post operasi dilakukan penanganan reduksi tertutup, ekstermitas dipertahankan dengan gips, traksi, bidai danfiksator eksterna pada tindakan ini jika dilakukan tidak benar maka dapat menyebabkan Resiko infeksi (Suraton, 2009). Pada tindakan insisi dapat mempengaruhi jaringan sekitar yaitu kerusakan saraf sensori, kerusakan jaringan lemak, dari tindakan ini dapat mengakibatkan luka terbuka sehingga dapat menimbulkan Kerusakan integritas kulit (Cahyani, 2012).

2.1.7    Pathway

Trauma Langsung
Trauma Tidak Langsung
Kondisi Patologis
Tekanan Berlebih Pada Tulang
Terjadi Fraktur
Pergeseran Fregmen Tulang
Tindakan Operatif ORIF
Nyeri Akut
Pemasangan Traksi, Pen, Kawat Scrup, dan Plat
Gangguan Fungsi Ekstermitas
Gangguan Mobilitas Fisik
Bekas Luka Post Op ORIF
Resiko Infeksi
Gangguan Integritas Kulit
Merangsang neciseptor
Pengeluaran histamin, bradikinin dan prostaglandin
Merangsang A-delta
Mengenai tulang dan jaringan

Gambar 2. 1 Pathway Post Op Fraktur berdasarkan Kusuma ( 2016, hal. 8)

2.1.8    Komplikasi Post Op ORIF

  1. Komplikasi post op ORIF dapat meliputi anemia dan trombositopenia terjadi pada pasien dengan kerusakan jaringan yang luas, dan beresiko mengalami perdarahan pasca bedah (Mutaqin, 2013, hal. 363).
  2. Deleyed union

Deleyed union merupakan kegagalan fraktur bergabung sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang (Rosyidi k, 2013, hal. 45).

  • Nonunion

Patah tulang yang tidak menyambung kembali (Putri, 2013, hal. 243).

  • Malunion

Suatu keaadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring (Putri, 2013, hal. 243)

  • Infeksi

Sistem pertahan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit  dan masuk kedalam. Ini biasanya terjadi pada fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat (Rosyidi k, 2013, hal. 45).

  • Avaskuler Nekrosis (AVN)

AVN terjadi karena aliran darah ketulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang (Rosyidi k, 2013, hal. 45).

1.2      Konsep Kebutuhan Dasar Manusia

1.2.1   Definisi Nyeri

Nyeri merupakan suatu kondisi lebih dari sekedar kondisi lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu nyeri bersifat subjektif yang sangat bersifat individual dan stimulus dapat berupa stimulus fisik dan atau mental, sedang kerusakan sedangakan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu (Haswita, 2017, hal. 181).

Nyeri pasca ORIF adalah  nyeri yang timbul karena adanya mekanisme produksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang atau setelah dirusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan (Alimul, 2009, hal. 214).

1.2.2   Jenis Nyeri

  1. Nyeri Akut

Nyeri akut akan dapat menghilangkan dengan atau tanpa pengobatan setelah keadaan pulih pada area yang rusak fungsi yang nyeri akut adalah memberikan peringatan akan cedera atau penyakit yang akan datang nyeri akut biasanya berlangsung secara singkat misalnya nyeri pembedahaan ,nyeri patah tulang (Haswita, 2017, hal. 37).

  • Nyeri Kronis

Nyeri Kronis dapat menjadi penyebab utama ketidak mampuan fisik psikologi sehingga akan timbul masalah seperti ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas sehari – hari, gejala nyeri kronik meliputi keletihan, insomnia, penurunan berat badan, depresi, putus asa dan kemarahan. Nyeri kronik berkembang lebih lambat (Heriana, 2014, hal. 37).

1.2.3   Pengukuran Intensitas Skala Nyeri

  1. Skala nyeri menurut Hayward

Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala menurut Hayward dilakukan dengan meminta penderita untuk memilih salah satu bilangan dari 0-10 yang menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang sangat dirasakan (Haswita, 2017, hal. 186).

0 Tidak nyeri  1            2            3 Nyeri ringan 4            5          6 Nyeri sedang   7         8            9 Nyeri berat terkontrol 10 Nyeri berat tidak terkontrol

Gambar 2. 2 Skala Nyeri Berdasarkan Haswita (2017, hal. 187)

  • Skala nyeri menurut Mc Gill

Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala menurut Mc Gill dilakukan dengan meminta penderita untuk memilih salah satu bilangan dari 0-5 yang menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang sangat dirasakan.

Skala nyeri menurut Mc Gill dapat ditulis sebagai berikut:

0= Tidak nyeri

1= Nyeri ringan

2= Nyeri sedang

3= Nyeri berat atau parah

4= Nyeri sangat berat

5= nyeri hebat lansia (Wahid, 2016, hal. 329).

1.2.4   Penatalaksanaan Nyeri Pasca ORIF

  1. Non Farmakologi
  2. Imobilisasi untuk mengurangi nyeri yaitu dengan latihan gerak  Range Of motion (ROM). Latihan ROM disisni dibagi menjadi dua yaitu latihan gerak aktif dan latihan gerak pasif, pada pasien pasca ORIF disini menggunakan latihan gerak aktif dimana latihan dilakukan dengan menggerakan sendi anggota tubuh untuk mencegah kelemahan otot, kekakuan sendi, mempersiapkan massa sembuh dan mencegah dekubitus (Sigalingging, 2012, hal. 148)
  3. Teknik Distraksi, merupakan metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengahlikan perhatian pasien ke hal – hal yang lain sehingga pasien akan lupa terhadap nyeri yang dirasakan (Wahid, 2016, hal. 331).
  4. Dengan memberikan sokongan sendi atas dan bawah fraktur bila bergerak atau membalik, sokong fraktur dengan bantal atau gulungan selimut, pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit (Margareth, 2019, hal. 53). 
  • Farmakologi

Menurut Wahid (2016, hal. 331) penatalaksanaan nyeri pasca post ORIF yaitu:

  1. Analgesik narkotik

Analgesik narkotik terdiri dari berbagai derivate opium seperti morfin dan kodein narkotika dapat memberi efek penurunan nyeri dan kegambiraan karena obat ini mengadakan ikatan dengan respon opiate dan mengaktifkan penekanan nyeri endrogen pada susunan saraf  pusat.

  • Analgesik non narkotik

Analgesik non narkotik seperti aspirin, ketorolac, asetaminofen, dan ibuprofen selain meliliki efek nyeri juga memiliki efek inflamasi dan anti piretik obat golongan ini menyebabkan penurunan nyeri dengan penghambat produksi prostalgladin dari jaringan yang mengalami trauma dan inflamasi lansia.

2.3      Konsep Asuhan Keperawatan

2.3.1   Pengkajian

  1. Identitas

Fraktur tibia dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan namun, fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan kecelakaan, olahraga dan pekerjaan. Sedangkan pada lanjut usia berhubungan dengan adanya osteoporosis (Ningsih, 2013, hal. 26).

  • Status kesehatan saat ini
  • Alasan masuk rumah sakit

Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) biasanya dengan keluhan post kecelakaan lalu lintas, akibat kecelakaan saat bekerja atau saat berolahraga. Pada pasien fraktur dapat di jumpai luka terbuka maupun luka tertutup, adanya perdarahan pada lutut, krepitasi, pemendekan tulang, pembengkakan lokal, perubahan warna (Ningsih, 2013, hal. 30).

  • Keluhan utama masuk rumah sakit

Pasien mengeluh nyeri yang terus menerus (Wahid, 2016, hal. 333).

  • Keluhan utama pengkajian

Pada umumnya keluhan utama pada kasus Post Op ORIF adalah rasa nyeri, nyeri dirasakan lebih hebat dan berlangsung lama. Untuk memperoleh pengkajian rasa nyeri yang lengkap meliputi:

  1. Provoking inciden: Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan secara jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulng dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya (Riyan, 2018).
  2. Quality of pain: Nyeri yang dirasakan post operasi fraktur yaitu nyeri seperti menusuk dan dirasakan terus menerus (Ningsih, 2013, hal. 30).
  3. Region radiation, relief: Pada pasien pasca operasi fraktur Cruris nyeri yang dirasakan pada area lutut (Noor, 2016, hal. 540). Nyeri disini dapat menghilang dengan tehnik relaksasi maupun dengan teknik pengobatan (Heriana, 2014, hal. 37).
  4. Saverity/scale of pain: Nyeri yang dirasakan pasien pasca operasi dapat dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala, dimana dilakukan dengan meminta pasien untuk memilih salah satu bilangan dari 0-10 yang menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang sangat dirasakan (Haswita, 2017, hal. 186).
  5. Time: Nyeri dirasakan terus menerus dan bertambah berat disaat tulang diimobilisasi (Ningsih, 2013, hal. 30).
  6. Kualitas keluhan

Nyeri seperti menusuk dan dirasakan terus menerus (Ningsih, 2013, hal. 30).

  • Faktor pencetus

Post operasi ORIF dilakukan karena adanya fraktur, fraktur dapat terjadi akibat kecelakaan, olahraga dan pekerjaan. Sedangkan pada lanjut usia berhubungan dengan adanya osteoporosis (Ningsih, 2013, hal. 26)

  • Faktor pemberat

Nyeri post operasi ORIF akan semakin bertambah berat disaat tulang diimobilisasi (Ningsih, 2013, hal. 30)

  • Upaya yang telah dilakukan

Dilakukan operasi ORIF untuk mempertemukan serta memfiksasi kedua ujung fregmen tulang yang patah dengan menggunakan pin, sekrup, kawat, batang atau lempeng untuk mempertahankan reduksi  (Mutaqin, 2013, hal. 341)

  • Riwayat kesehatan
  • Riwayat penyakit sekarang

Pada pasien fraktur dapat terjadi karena kecelakaan, degeneratif dan patologis yang didahului dengan perdarahan, kerusakan jaringan sekitar yang mengakibatkan nyeri, bengkak, kebiruan, pucat, perubahan warna kulit dan kesemutan (Putri, 2013, hal. 245).

  • Riwayat penyakit terdahulu
  • Riwayat penyakit sebelumnya

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit tertentu seperti kanker tulang yang menyebabkan fraktur patologis selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki yang sangat beresiko terjadinya osteomylitis akut maupun kronik (Rosyidi k, 2013, hal. 48).

  • Riwayat penyakit keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit fraktur yang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Rosyidi k, 2013, hal. 48).

  • Riwayat alergi

Perawat harus mewaspadai adanya alergi terhadap berbagai obat. Apabila pasien memiliki alergi terhadap satu obat atau lebih, maka pasien perlu mendapat pita atau tanda gelang identifikasi alergi (Mutaqin, 2013, hal. 70).

  • Kebiasaan

Kebiasaan dalam berkendara dan melakukan olahraga maupun pekerjaan yang berat sangat beresiko untuk mengalami fraktur (Ningsih, 2013, hal. 26).

  • Obat-obatan yang digunakan

Pemberian obat analgesik, yang digunakan untuk memblok transmisi stimulasi agar terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi nyeri (Alimul, 2009, hal. 221).

  • Genogram

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur seperti Diabetes dan Osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, serta Kankertulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Rosyidi k, 2013, hal. 48).

  • Riwayat lingkungan

Lingkungan yang mampu menimbulkan faktor yang beresiko untuk terjadi fraktur yaitu lingkungan dengan kepadatan lalu lintas dan tempat pekerjaan berat yang tinggi akan resiko cedera (Ningsih, 2013, hal. 26).

  • Alat bantu yang digunakan

Untuk mencegah terjadinya trauma cidera yang berulang pasien menggunakan alat bantu seperti kursi roda, kruk dan tongkat untuk melakukan mobilitas (Ningsih, 2013, hal. 48).

  • Pemeriksaan Fisik
  • Keadaan umum
  • Kesadaran

Saat pasien sadar dari anastesi umum tingkat kesadaran Glasgow Coma Scale (GCS) yaitu Composmentis. Rasa nyeri menjadi sangat terasa. Nyeri terasa sebelum kesadaran pasien kembali penuh  (Mutaqin, 2013, hal. 140).

  • Tanda-tanda vital

Pada pasca operasi nyeri akut menyebabakan pasien gelisah dan menyebabkan tanda-tanda vital berubah, masalah yang sering terjadi adalah perdarahan , dari perdarahan dapat mengakibatkan tekanan darah menurun, meningkatnya kecepatan denyut jantung dan pernafasan, denyut nadi lemah, suhu menurun (Mutaqin, 2013, hal. 138).

  • Pemeriksaan Body sistem
  • Sistim persarafan

Menurut Wati (2018, hal. 29) sistem persarafan pada pasien post operasi ORIF yaitu:

  1. Saraf I (Nervus olfaktorius ): Pada pasien post operasi fraktur cruris fungsi saraf satu tidak mengalami kelainan
  2. Saraf II (Nervus optikus): Tes ketajaman pengelihatan dalam batas normal
  3. Saraf III (Nervus occulomotorius): Reaksi pupil terhadap cahaya tidak mengalami kelainan, reaksi pupil isokor
  4. Saraf II (Nervus trochlearis): gerakan bola mata normal
  5. Saraf IV (Nervus trigeminus): tidak mengalami gangguan terhadap reflek kornea dan tidak ada kelainan pada gerakan rahang
  6. Saraf V (Nervus abdusen): arah tatapan mata pasien normal kekiri dan kekanan 
  7. Saraf VI (Nervus fasialis): gerakan mengecap normal, menurunkan dan menaikan alis mata  simetris
  8. Saraf VII (Nervus vestibulocochlearis): tidak mengalami kelainan pada sistem pendengaran
  9. Saraf VIII (Nervus glosofaringeal): persepsi dalam pengecapan normal dan wajah simetris serta kemampuan menelan baik
  10. Saraf IX (Nervus vagus): kemampuan menelan baik
  11. Saraf X (Nervus asesorius): pasien mampu melawan tahanan ringan pada gerakan bahu
  12. Saraf XI (Nervus hipoglosus): tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
  13. Pemerksaan refleks: biasanya tidak didapatkan reflek-reflek patologis pada kaki yang mengalami fraktur
  14. Sistim pengelihatan
  15. Inspeks: Sistim pengelihatan tidak mengalami gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan
  16. Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan (Rosyidi, 2013, hal. 52).
  17. Sistim pendengaran
  18. Inspeksi: tidak terdapat kelainan pada telinga, telinga simetris

Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal (Rosyidi, 2013, hal. 52).

  • Sistim pernafasan
  • Inspeksi: Pernafasan meningkat, regular atau tidak regular tergantung pada riwayat penyakit pasien yang berhubungan dengan paru
  • Palpasi: Pergerakan sama atau simetris, focal fremitus teraba sama.
  • Perkusi: Suara ketok sonor, tidak ada redup atau suara tambahan lainya.
  • Auskultasi: suara nafas normal, tidak ada whezzing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi (Rosyidi k, 2013, hal. 52).
  • Sistim kardiovaskular
  • Inspeksi: tidak tampak iktus jantung
  • Palpasi: nadi meningkat
  • Perkusi: batas jantung normal, batas atas ICS ke 2, batas bawah ICS ke 5, batas kiri ICS ke 5 mid klavikula sinistra, dan batas kanan ICS ke 4 mid sternalis dextra (Haswita, 2017, hal. 192)
  • Auskultasi: suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur (Rosyidi k, 2013, hal. 52).
  • Sistim pencernaan-eleminasi alvi
  • Inspeksi: Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
  • Auskultasi: Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit
  • Palpasi: Tugor baik, tidak ada defans muskular (nyeri tekan

 pada seluruh abdomen), hepar tidak teraba.

  • Perkusi: suara thympani (Rosyidi k, 2013, hal. 53).
  • Sistim Perkemihan-eleminasi urin
  • Inspeksi: warna urin, bau, serta frekuensi dalam batas normal
  • Palpasi: tidak terdapat benjolan, tidak terdapat nyeri tekan dan biasanya tidak di jumpai distensi kandung kemih
  • Perkusi: pada waktu 6-8 jam setelah anastesi pasien akan mendapatkan kontrol fungsi miksi (Mutaqin, 2013, hal. 140).
  • Sistim muskuloskeletal
  • Inspeksi: terdapat fiksasi seperti gips atau spalk pada kaki post operasi, kemerahan, bengkak, terdapat bekas luka insisi, terdapat nyeri gerak,
  • Palpasi: suhu sekitar trauma hangat dan gerakan tonus otot menurun (Rosyidi, 2013, hal. 54).
  • Sistim integumen
  • Inspeksi: pada area kulit yang trauma berwarna kemerahan bengkak,
  • Palpasi: Terdapat eritema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, dan terdapat nyeri tekan (Rosyidi, 2013, hal. 51).
  • Sistem endokrin

Penderita post operasi terjadi hipoglikemia karena efek anastesi menyebabkan asupan karbohidrat tidak adekuat (Mutaqin, 2013, hal. 85).

  1. Sistim reproduksi

Dampak pada paien fraktur yaitu pasien tidak bisa melakuakn hubungan seksual karena harus mengalami rawat inap dan keterbatasan gerak serta nyeri yang dirasakan pasien (Rosyidi, 2013, hal. 50).

  • Pola aktivitas
  • Pola makan

Pada pasien pasca operasi  pola makan pasien akan di pantau terlebih dahulu karena efek anastesi juga mempengaruhu pengosongan lambung sehingga dapat terjadi refluks, esofagus sehingga makanan keluar dan mengakibatkan aspirasi ke saluran nafas (Mutaqin, 2013, hal. 138). Pada pasien tidak akan mengalami penurunan nafsu makan, (Putri, 2013, hal. 245).

  • Pola minum

Pada pasien pasca operasi  pola makan pasien akan di pantau terlebih dahulu karena efek anastesi juga mempengaruhu pengosongan lambung sehingga dapat terjadi refluks, esofagus sehingga makanan keluar dan mengakibatkan aspirasi ke saluran nafas (Mutaqin, 2013, hal. 138).

  • Kebersihan diri

Pada fraktur akan mengalami perubahan atau gangguan pada personal higine, misalnya kebiasaan mandi, ganti pakaian, BAB dan BAK (Putri, 2013, hal. 245).

  • Istirahat dan aktivitas

Aktivitas mengalami perubahan atau gangguan akibat dari post operasi sehungga kebutuhan pasien perlu dibantu oleh perawat atau keluarga. Kebiasaan pola tidur dan istirahat mengalami gangguan yang disebabkan oleh nyeri fraktur atau post opfraktur (Putri, 2013, hal. 245).

  • Psiko sosial
  • Sosial interaksi

Hubungan interaksi antara pasien dengan keluarga, pasien dengan pasien serta tenaga medis terjalin dengan baik (Rosyidi, 2013, hal. 48).

  • Spiritual

Adanya kecemasan dan stress sebagai pertahanan dan pasien meminta perlindungan atau mendekatkan diri pada Tuhan (Putri, 2013, hal. 246).

  • Pemeriksaan penunjang
  • Pemeriksaan Radiologi
  • Pemeriksaan Rongen : terdapat krepitasi atau struktur tulang yang rusak pada tulang cruris (Rosyidi k, 2013, hal. 40).
  • Scan tulang : mengambarkan potongan secara tranfersal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak (Rosyidi k, 2013, hal. 56).
  • MRI: mengambarkan kerusakan pada tulang cruris (Rosyidi k, 2013, hal. 55).
  • Pemeriksaan Laboratorium
  • Hitung darah lengkap : Hemoglobin mungkin meningkat atau menurun (Rosyidi k, 2013, hal. 40).
  • Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang (Rosyidi, 2013, hal. 56).
  • Alkalin fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukan osteoblastik dalam membentuk tulang (Rosyidi, 2013, hal. 56).
  • Peningkatan jumlah sop adalah responstress normal setelah trauma (Rosyidi k, 2013, hal. 40).
  • Kreatinin : trauma otot meningkat beban kreatin untuk ginjal (Ningsih, 2013, hal. 37).
  • Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multiple atau cedera hati (Ningsih, 2013, hal. 37).
    • Penatalaksanaan

Prinsip penanganan post operasi Fraktur meliputi:

  1. Imobilisasi/fiksasi

Imobilisasi dapat dilakukan metode eksterna dan interna. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neurovaskular selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, dan gerakan (Kusuma, 2016, hal. 228). Membuat daerah post operasi fraktur tidak bergerak dengan pemasangan fiksasi, seperti gips dan spalk (Margareth, 2019, hal. 49).

  • Melakukan perawatan luka dengan tehnik steril (Rosyidi, 2013, hal. 64).
  • Mengobservasi tanda-tanda vital  (Rosyidi, 2013, hal. 65).
  • Ajarkan latihan gerak ROM aktif (Ningsih, 2013, hal. 48).
  • Anjurkan diet lunak terlebih dahulu setelah peristaltik kembali setelah pasca anastesi (Kusuma, 2016, hal. 228).
  • Rekognisi

Riwayat kejadian harus jelas untuk menentukan diagnosis dan tindakan selanjutnya (Rosyidi k, 2013, hal. 41).

  • Reduksi

Reduksi fraktur berarti mengembalikan fregmen tulang pada kesejajaran dan rotasi anatomis. Alat alat yang digunakan biasahnya traksi, bidai dan alat yang lainya (Kusuma, 2016, hal. 228).

  • Retensi

Aturan umum dalam pemasangan gips yang dipasang untuk memperatahankan reduksi harus melewati dua sendi yang mengalami fraktur (Putri, 2013, hal. 241).

  1. Rehabilitasi

Pengobatan dan penyembuhan fraktur (Putri, 2013, hal. 241).

2.3.2   Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri Akut
  2. Definisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan inset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

  • Penyebab
  • Agen pencedera fisik (misalnya, abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, dan latihan fisik berlebihan).
  • Gejala dan tanda mayor
  • Subjektif
  • Mengeluh nyeri
  • Objektif
  • Tampak meringis
  • Bersikap protektif (misalnya, waspada, dan posisi menghidari nyeri)
  • Gelisah
  • Frekuensi nadi meningkat
  • Sulit tidur
  • Gejala dan tanda minor
  • Objektif
  • Tekanan darah meningkat
  • Polanafas berubah
  • Nafsu makan berubah
  • Proses berfikir terganggu
  • Menarik diri
  • Berfokus pada diri sendiri
  • Diaforesis
  • Kondisi klinis terkait
  • Kondisi pembedahan
  • Cedera traumatis
  • Infeksi (PPNI, 2017, hal. 172).
  • Gangguan Mobilitas Fisik
  • Definisi

Keterbatasan dalam gerakan fisik darisatu atau lebih ekstermitas secara mandiri.

  • Penyebab
  • Kerusakan integritas struktur tulang
  • Kontraktur
  • Nyeri
  • Penurunan kendali otot
  • Kekakuan sendi
  • Gejala dan tanda mayor
  • Subjektif

Mengeluh sulit menggerakan ekstermitas

  • Objektif
  • Kekuatan otot menurun
  • Rentang gerak (ROM) menurun
  • Gejala dan tanda minor
  • Subjektif
  • Nyeri saat bergerak
  • Enggan melakukan pergerakan
  • Merasa cemas saat bergerak
  • Objektif
  • Sendi kaku
  • Gerakan tidak terkoordinasi
  • Gerakan terbatas
  • Fisik lemah
  • Kondisi klinis terkait
  • Trauma
  • Fraktur
  • Osteoatritis (PPNI, 2017, hal. 124).
  • Gangguan Integritas Kulit
  • Definisi

Kerusakan kulit (dermis atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi, dan ligamen).

  • Penyebab
  • Penurunan mobilitas
  • Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan atau integritas jaringan
  • Faktor mekanis, misalnya gesekan
  • Gejala dan tanda mayor
  • Objektif
  • Kerusakan jaringan dan atau jaringan kulit
  • Gejala dan tanda minor
  • Objektif
  • Nyeri
  • Perdarahan
  • Kemerahan
  • Hematoma
  • Kondisi klinis terkait
  • Imobilisasi
  • Diabetes melitus
  • imunodefisiensi (PPNI, 2017, hal. 282).
  • Resiko Infeksi
  • Definisi

Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme  patogenik.

  • Faktor resiko
  • Efek prosedur infasif
  • Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan
  • Penurunan hemoglobin
  • Kondi klinis terkait
  • Tindakan infasif (PPNI, 2017, hal. 304).

2.3.3   Intervensi

  1. Nyeri Akut
  2. Tujuan
  3. Pasien dapat mengenali awitan nyeri
  4. Pasien dapat mengontrol nyeri
  5. Pasien mengetahui tingkatan nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: sangat berat, berat, sedang, ringan atau tidak ada)
  6. Kriteria Hasil
  7. Memperlihatkan tehnik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan nyeri berkurang
  8.  Menggunakan tindakan meredakan nyeri dengan analgesik dan non-analgesik, tidak mengalami gangguan dalam tanda-tanda vital dan melaporkan pola tidur yang baik
  9. Melaporkan nyeri kepada pelayanan kesehatan
  10. Tidak mengalami gangguan pada tanda-tanda vital
  11. Aktivitas Keperawatan
  12. Pengkajian
  13. Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian
  14. Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidak nyamanan pada skala 0-10 (0= tidak ada nyeri atau ketidak nyamanan, 10= nyeri hebat)
  15. Manajemen Nyeri (NIC): lakukan pengkajian nyeri yang koprehensif meliputi lokasi, karakeristik, frekuensi.
  16. Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  17. Memberitahukan pada pasien untuk lapor kepada perawat jika peredaan nyeri tidak tercapai
  18. Memberikan informasi kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri
  19. Manajemen Nyeri (NIC): ajarkan teknik nonfarmakologi (misalnya: relaksasi, terapi musik, distraksi, kompes hangat atau dingin) sebelum, setelah dan kemungkinan selama aktivitas menimbulkan nyeri.
  20. Aktivitas lain
  21. Bantu pasien mengidentivikasi tindakan kenyamanan yang efektif seperti distraksi, relaksasi, atau kompres hangat dingin
  22. Hadir didekat pasien untuk emenuhi kebutuhan rasa nyaman dan ktivitaslain untuk membantu relaksasi
  23. Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui televisi dan interaksi dengan pengunjung
  24. Manajemen Nyeri (NIC): kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap kenyamanan (misalnya: suhu ruangan, pencahayaan dan kegaduhan)
  25. Aktivitas kolaboratif
  26. Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian obat analgetik dan antipiretik yang terjadwal sesuai advis dokter seperti aspirin 2400-3600 mg, dan asam mefenamat 1500 mg yang diberikan secara oral, ketorolac 50 mg, ketorolac 30 mg yang diberikan secara intra vena
  27. Manajemen Nyeri (NIC): laporkan pada dokter jika tindakan tidak berhasil
  28. Pantau tanda-tanda vital  (Wilkinson, 2016, hal. 296-299).
  29. Gangguan Mobilitas Fisik
  30. Tujuan
  31. Mempertahankan mobilisasi: keseimbangan, koordinasi, pergerakan sendi dan otot, berjalan dan bergerak dengan mudah
  • Kriteria Hasil
  • Memperlihatkan penggunaan alat bantu secara benar dengan pengawasan
  • Meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi jika diperlukan
  • Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri dengan alat bantu
  • Mampu berpindah dari tempat tidur ke kursi roda
  • Aktivitas Keperawatan
  • Pengkajian
  • Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan kesehatan
  • Kaji kebutuhan belajar pasien
  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat bantu mobilisasi (misalnya: tongkat, kruk, walker  dan kursi roda)
  • Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otota
  • Berikan penguatan positif selama aktivitas
  • Aktivitas lain
  • Pengaturan posisi (NIC): ajarkan pasien bagaiman menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benaar saat melakukan aktivitas
  • Awasi seluruh upaya mobilitas dan bantu pasien, jika diperlukan
  • Ajarkan teknik ambulasi dan berpindah yang aman
  • Susun rencana yang spesifik, seperti: posisi pasien di tempat tidur atau kursi, peralatan eliminasi yang diperlukan seperti pispot, urinal dan pispot fraktur
  • Aktivitas kolaboratif
  • Gunakan ahli terapi fisik untuk program latihan jika perlu (Wilkinson, 2016, hal. 267-269).
  •  Gangguan Integritas Kulit
  • Tujuan
  • Menunjukan penyembuhan luka: adanya granulasi, pembentukan jaringan parut, penyusutan luka, penyatuan kulit, penyatuan ujung luka dan pembentukan jaringan parut
  • Menunjukan integritas kulit, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada gangguan): suhu, elastisitas, hidrasi dan sensasi, perfusi jaringan dan keutuhan kulit
  • Kriteria Hasil
  • Drainase purulen atau bau luka minimal
  • Tidak ada lepuh atau laserasi kulit
  • Eritema kulit dan eritema disekitar luka minimal
  • Aktivitas Keperawatan
  • Pengkajian
  • Perawatan area insisi (NIC): inspeksi adanya kemerahan, pembengkakan atau eviserasi pada area insisi
  • Perawatan luka (NIC): inspeksi luka pada setiap mengganti balutan
  • Kaji karakteristik luka, meliputi warna, ukuran, bau, luas, adanya karakter eksudat, granulasi dan adanya tanda infeksi
  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Ajarkan perawatan luka insisi pembedahan, termasuk tanda dan gejala infeksi, cara mempertahankan agar luka tetap kering saat mandi dan mengurangi insisi pada area tersebut
  • Aktivitas lain
  • Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin
  • Mengubah dan atur posisi pasien secara sering
  • Pertahankan jaringan sekitar terbebas dari kelembapan
  • Bersihkan luka, bergerak dengan gerakan berputar dari pusat keluar
  • Aktivitas kolaboratif
  • Kolaborasi pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein, mineral, kalori dan vitamin. Protein 100 g (2g/kgBB) atau 125 g (2 ½/kgBB), kalori2600 kal/kgBB atau 3000 kal/kgBB
  • Konsultasikan pada dokter tentang implementasi pemberian makanan dan nutrisi enteral atau parenteral untuk meningkatkan potensi penyembuhan luka (Wilkinson, 2016, hal. 397-399).
  • Resiko Infeksi
  • Tujuan
  • Faktor infeksi akan hilang
  • Kriteria Hasil
  • Penyembuhan luka
  • Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
  • Memperhatikan higine personal yang adekuat
  • Aktivitas Keperawatan
  • Pengkajian
  • Pantau tanda dan gejala infeksi (misalnya: suhu tubuh, penampilan luka, suhu kulit dan lesi kuli)
  • Pantau hasil laboratorium (misalnya: hitung darah lengkap, hitung jenis, hitung granulosit absolut, protein serum dan albumin)
  • Kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misal: usia lanjut, luluh imun dan malnutrisi)
  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Intruksikan pada pasien untuk menjaga personal higine untuk menghindari infeksi
  • Ajarkan pasien tehnik mencuci tangan yang benar
  • Ajarkan pada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan meninggalkan ruangan
  • Aktivitas lain
  • Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadinya infeksi
  • Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang 
  • Pengendalian infeksi (NIC): batasi jumlah pengunjung bila diperlukan
  • Aktivitas kolaboratif
  • Ikuti institusi untuk melaporkan infeksi yang dicurigai
  • Pengendalian infeksi (NIC): berikan terapi antibiotik, bila diperlukan, seperti ceftriaxone 1 g (Wilkinson, 2016, hal. 234-235).

2.3.4   Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan dari intervensi untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tujuan dari implementasi adalah membantu pasien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2009, hal. 127).

2.3.5   Evaluasi 

Evaluasi adalah tindakan untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan dari diaknosa keperawatan, rencana intervensi dan implementasinya (Nursalam, 2009, hal. 135). Hasil yang diharapkan pada pasien fraktur tibia yaitu: Nyeri berkurang atau hilang, mampu mempertahankan mobilisasi, tidak terjadi kerusakan integritas kulit dan infeksi tidak terjadi (Rosyidi k, 2013, hal. 66).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan yaitu desain study kasus, yaitu metode yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif pada satu klien (Nursalam, 2013, hal. 161). Pada Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti melakukan study kasus dengan fokus asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember.

3.2  Batasan Istilah

Pada penelitian ini adalah Asuhan Keperawatan pada Pasien yang Mengalami Fraktur Cruris Post Op ORIF dengan  Nyeri Akut di Ruang Seruni RSD dr. Soebandi Jember.

Fraktur Cruris  dapat terjadi akibat rusaknya  kontinuitas tulang yang timbul karena tekanan dari luar yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Roshidi, 2013). Nyeri pasca ORIF fraktur cruris adalah nyeri yang timbul karena adanya mekanisme produksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang atau setelah dirusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan (Alimul, 2009, hal. 214).

3.3  Partisipan

Partisipan adalah keterlibatan individu dalam kegiatan mental dan emosi secara fisik dalam berpendapat dan ikut mengambil keputusan pada proses identifikasi masalah dengan tujuan dan manfat yang ingin dicapai (Fadliyati, 2015, hal. 38). Pada penulisan proposal karya tulis ilmiah ini partisipan yang digunakan peneliti yaitu satu orang yang menderita atau mengalami post op ORIF fraktur cruris dengan rentang usia dan jenis kelamin baik laki-laku maupun perempuan di ruang Seruni RSD dr.Soebandi Jember disertai dengan keluarga klien, dokter, perawat, dan ahli gizi yang berhubungan dengan klien.

3.4  Lokasi dan Waktu

Peneliti memanfaatkan lokasi yang khusus mengalami fraktur, yaitu ruang Seruni RSD dr.Soebandi Jember. Waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni tahun 2019.

3.5  Pengumpulan Data

3.5.1   Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan perbuatan jiwa yang aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan atau gejala nyata. Yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengamati perilaku, gejala-gejala yang timbul (Imron, 2010, hal. 90).

3.5.2   Wawancara

Wawancara merupakan sebuah percakapan yang dilakukan secara langsung dengan responden. Pada penelitian metode wawancara dilakukan secara langsung dengan klien dan keluarga klien dalam pengumpulan data (Imron, 2010, hal. 90).

3.5.3   Study dokumentasi

Study dokumentasi yaitu pernyataan yang ditulis dan disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa. Dalam penelitian ini peneliti melakukan dokumentasi dengan menggunakan hasil Laboratorium dan Reka Medik klien (Imron, 2010, hal. 90).

3.6  Uji keabsahan

Uji keabsahan data dibuat agar penelitian memiliki nilai validasi dan reliabilitas. Uji keabsahan data menurut Suwendra (2018, hal. 67-145)  dilakukan dengan cara sebagai berikut:

3.6.1   Perpanjang waktu pengamat atau tindakan

Asuhan keperawatan klien dilakukan selama 24 jam minimal dilakukan 3 hari, jika klien pulang dari rumah sakit kurang dari 3 hari maka peneliti dapat melakukan home care untuk memperpanjang waktu  pengamatan yang telah ditentukan

3.6.2   Melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan

Pengamatan dilakukan dengan melibatkan klien sebagai pasien, keluarga serta tenaga medis. Pengamatan juga dilakukan dengan melihat hasil dari pemeriksaan penunjang pada klien sebagai acuan terhadap asuhan keperawatan

3.6.3   Triangulasi

Triangulasi adalah pengumpulan data dengan menggunakan berbagai macam tehnik pengumpulan data. Data yang terkumpul kemudian dibandingkan dicari persamaan dan perbedaan kemudian dirumuskan makna yang terkandung dalam sebuah kasus. Triangulasi yaitu kombinasi mengguakan beragam sumber data, tenaga peneliti, teori dan teknik metodologis dalam suatu penelitian atas gejala sosial.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi dari tiga sumber yaitu klien, perawat, dan keluarga yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hasil dari penelitian kemudian dibandingkan dengan teori medis, setelah itu didokumentasikan dalam pembahasan.

3.7  Analisa data

Analisa data yaitu upaya mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik atau sifat-sifat data tersebut dapat mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah yang berkaitan dengan kegiatan penlitian, sub kegiatan yang penting yaitu melakukan analisis dan penafsiran data sebelum kemudian data tersebut disajikan secara utuh (Imron, 2010, hal. 154). Analisa data dilakukan dengan cara :

3.7.1   Pengumpulan data

Metode pengumpulan data adalah tehnik atau carayang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Pengumpulan data disini dapat menggunakan tehnik wawancara, Observasi, dan Dokumentasi (Rachmatul, 2014).

Pengumpulan data didapatkan dari hasil wawancara dan observasi, hasil yang diperoleh selama tindakan observasi  kemudian didokumentasikan. Pada pengumpulan data inilah didapatkan hasil klien yang mengalami fraktur post operasi ORIF dengan nyeri akut

3.7.2   Reduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan data untuk memudahkan pemahaman terhadap data penelitian yang sudah terkumpul. Reduksi data ini dilakukan dengan cara mengelompokan data sesui sesuai dengan aspek permasalahan penelitian (Gunawan, 2014).

Hasil dari pengumpulan data dikelompokan menjadi data subyektif dan data obyektif kemudian data dianalisis berdasarkan hasil diagnosis

3.7.3   Penyajian data

Penyajian data dilakukan dengan penabelan. Dari data yang disajikan kemudian data dibandingkan dengan teori dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan Intervensi Keperawatan (Gunawan, 2016, hal. 53). Peneliti menyajikan data dalam bentuk uraian singkat berupa narasi serta tabel.

Pada penelitian ini dilakukan sejak peneliti dilapangan sampai semua data terkumpul.  Teknis analisis digunakan dengan cara observasi eleh peneliti dan studi dokumentasi yang dihasilakan kemudian dibandingkan oleh teori yang ada sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi dalam intervensi tersebut.

3.8  Etika penelitian

3.8.1   Informed consent

Informed consent adalah lembar persetujuan yang diberikan oleh peneliti kepada responden untuk menjalankan suatu kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan penelitian baik berbentuk lisan maupun tulisan (Swarjana, 2012, hal. 170).

Pada penelitian ini menggunakan infirmed cosent secara tertulis dan ditanda tangani oleh klient sebagai bukti persetujuan.

3.8.2   Anonymity (tanpa nama)

Anonymity (tanpa nama) merupakan masalah etika keperawatan yaitu dengan cara tidak menunjukan nama responden dan hanya menuliskan inisial pada lembar alat ukur ntuk menjaga kerahasiaan responden (Widi, 2018, hal. 273). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan inisial dengan huruf awal dari nama klien untuk dicantumkan dalam karya tulis ilmiah.

3.8.3   Confidentiality (kerahasiaan)

Confidentiality (kerahasiaan) merupakan etika untuk menjamin kerahasiaan dari peneliti baik data-data informasi atau masalah lainya. Semua informasi yang telah dikumpulkan terjamin kerahasiaanya dan hanya kelompok data tertentu yang akan ditampilakan pada riset dan tidak diekspos di khalayak ramai (Wasis, 2010, hal. 75).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *