ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN YANG MENGALAMI FRAKTUR CRURIS POST OP ORIF HARI KE-1 DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT DI RUANG RPC RS BHAKTI HUSADA KRIKILAN BANYUWANGI OLEH: MUHAMMAD ASRUL ZULMI

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

 Fraktur dapat terjadi akibat pukulan langsung, kekuatan tabrakan (kompresi), gerakan memutar tiba-tiba (puntiran), kontraksi otot berat, atau penyakit yang melemahkan tulang (Priscilla Lemone, 2017). Fraktur  cruris merupakan terputusnya tulang tibia dan fibula yang diakibatkan oleh trauma (Noor, 2016). Umumnya fraktur disebabkan oleh tekanan eksternal yang datang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat diserap oleh tulang (M. Asikin, 2016). Fraktur cruris sering kali menunjukkan edema, nyei, deformitas tulang, dan hematoma sehingga dilakukan (open reduction and internal fixation(ORIF) (Rosdahl, 2017). yang dapat menyebabkan pasien mengalami nyeri akut.

World Healtd  Organization WHO mencatat tahun 2014 kejadian fraktur cruris di dunia mengalami peningkatan dari 1,5 juta menjadi 5,3 juta. Kejadian fraktur cruris sebanyak 206,5 dan 214,8 per 100.000 penduduk pria dan wanita. Indonesia pada tahun 2017 sebanyak 45,987 peristiwa, sedangkan yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%). Kasus kecelakaan lalu lintas sebanyak 20.829 kasus, dan yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8.5%), sedangkan 14.127 trauma benda tajam dan tumpul sebanyak 236 orang (1,7%) (Nina Setyawati, 2017). Jawa Timur kasus fraktur 2,065 orang (BPS Jatim, 2015). Kemudian dikabupaten Banyuwangi kasus kecelakaan sepanjang tahun 2017 sebanyak 602 kasus. Untuk korban meninggal dunia 228 orang koban luka berat dan fraktur 438 orang dan korban luka ringan sebanyak 678 orang (Farizkurnia, 2017). Sedangkan data dari rekam medik RSU Bhakti Husada Krikilan pada bulan juli 2018 terdapat 10 penderita yang mengalami fraktur cruris.

 Fraktur cruris atau ekstremitas bawah sering kali terjadi akibat jatuh dengan kaki yang fleksi, pukulan langsung atau gerakan memutar. Secara klinis fraktur cruris terbuka kemungkinan sindrom kompartemen, hemartrosis dan kerusakan ligamen (Priscilla Lemone, 2017). Tindakan open reduction and internal fixation ORIF terapi pembedahan yang disebut reduksi terbuka dan fiksasi internal (Rosdahl, 2017). Pada kondisi ini kebanyakan pasien terjadi gangguan nyeri akut karena akibat kompresi atau kerusakan saraf yang berjalan di bawah tulang (Ns. Lukman, 2013).

Penatalaksanaan medis untuk meringankan fraktur dapat dilakukan dengan pembedahan, yang disebut reduksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF), biasanya jika diperlukan jika klien mengalami fraktur majemuk (terbuka) atau jika terdapat banyak fragmen tulang. Ujung tulang yang mengalami fraktur diposiskan secara sejajar untuk mendukung penyembuhan tulang. ORIF adalah terapi pilahan untuk fraktur tertentu (mis, fraktur cruris). Fiksasi internal mengurangi kebutuhan pemakaian traksi. Selain itu, penyembuhan klien biasanya akan lebih cepat (Rosdahl, 2017). Sedangkan untuk penatalaksanaan untuk mengurangi nyeri diperlukan tindakan manajemen nyeri farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi yaitu pemberian obat analgetik, sedangkan terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara kompres hangat, mengajak bicara pada klien, relaksasi nafas dalam (Palapina Heriana, 2014).

  1. Batasan Masalah

Masalah pada kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan klien Yang Mengalami fraktur Cruris Post Op ORIF hari ke-1 Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.

  1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan klien Yang Mengalami fraktur Cruris Post Op ORIF hari ke-1 Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.

  1. Tujuan
  2. Tujuan Umum

Menganalisis Asuhan Keperawatan klien Yang Mengalami fraktur Cruris Post Op ORIF hari ke-1 Dengan Masalah Keperawatan Nyeri Akut Di Ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.

  1. Tujuan Khusus
  2. Melakukan pengkajian pada klien yang mengalami Fraktur Cruris post op ORIF hari ke-1 dengan nyeri akut di ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.
  3. Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami Fraktur Cruris post op ORIF hari ke-1 dengan nyeri akut di ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.
  4. Menyusun perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami Fraktur Cruris post op ORIF hari ke-1 dengan nyeri akut di ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.
  5. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Fraktur Cruris post op ORIF hari ke-1 dengan Nyeri akut di ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.
  6. Melakukkan evaluasi keperawatan pada klien yang  mengalami Fraktur Cruris post op ORIF hari ke-1 dengan nyeri akut di ruang RPC RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi Tahun 2019.
  7. Manfaat                                                       
  8. Manfaat Teoritis

Asuhan keperawatan dengan menggunakan tindakan ORIF yang disebut reduksi terbuka dan fiksasi internal, biasanya jika diperlukan jika klien yang mengalami fraktur majemuk (terbuka) atau jika terdapat banyak fragmen tulang. Ujung tulang yang mengalami fraktur diposisikan secara sejajar untuk mendukung penyembuhan tulang. Fiksasi internal mengurangi kebutuhan pemakaian traksi. Selain itu, penyembuhan klien biasanya akan lebih cepat. Tindakan keperawatanya adalah dengan teknik mengalihkan perhatian terhadap nyeri dengan mengajak bicara klien, nonton tv, atau teknik nafas dalam.

  1. Manfaat Praktis
  2. Bagi Perawat

Hasil karya penulisan karya tulis ilmiah ini juga memberikan inspirasi pada perawat dengan memberikan terapi nonfarmakologi untuk asuhan keperawatan pada klien yang mengalami post op ORIF dengan gangguan Nyeri Akut.

  • Bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan baik rumah sakit dalam pengembangan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami post op ORIF dengan nyeri akut

  • Bagi Instanti Pendidikan  

Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan kepada perawat pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan keperawatan terutama ilmu keperawatan pada post op ORIF dengan nyeri akut.

  • Bagi Klien dan Keluarga

Mendapatkan asuhan keperawatan yang berkualitas sehingga masalah nyeri akut  pada klien yang mengalami post op ORIF dapat teratasi dan tidak memperparah kondisi klien.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • Konsep Fraktur Cruris
  • Definisi

            Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau trauma. Selain itu, fraktur merupakan rusaknya kontinuitas tulang yang disebakan oleh tekanan eksternal yang datang lebih besar dibandingkan dengan yang dapat diserap oleh tulang (M. Asikin, 2016).

            Fraktur cruris terbuka adalah terputusnya hubungan tulang tibia dan fibula disertai kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga memungkinkan terjadinya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan udara luar yang disebabkan oleh cidera dan trauma langsung yang mengenai kaki (muttaqin, 2012)

            Fraktur cruris atau tibia-fibula adalah terputusnya hubungan tulang tibia dan fibula. Secara klinis bisa berupa fraktur terbuka bila disertai kerusakan pada jaringan lunak(otot, kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga memungkinkan terjadinya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan udara luar dan fraktur tertutup (Noor Z. , 2016)

            Berdasarkan kedua definisi di atas dapat disimpulkan oleh penulis bahwa fraktur cruris adalah terputusnya hubungan tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh yang biasanya disebabkan oleh trauma atau benturan fisik yang terlalu keras yang ditentukan jenis dan luasnya trauma.

  • Etiologi

Menurut (Noor Z. , 2016) fraktur dapat terjadi menurut hal hal berikut ini :

  1. Peristiwa trauma tunggal

Sebagian fraktur cruris disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada temapt yang terkena dan jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit atasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif yang disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Bila terkena kekuatan tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan tersebut, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Kekuatan dapat berupa:

  1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spinal
  2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang
  3. Penekukan dan penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi disertai fragmen kupu-kupu berbentuk segitiga yang terpisah.
  4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan, dan penekanan yang menyebabkan fraktur obliq pendek.
  5. Penarikan dimana tendon atau ligamen benar-benar menarik tulang sampai terpisah.
  6. Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik)

Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal jika tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalo tulang itu sangat rapuh.

                 Sedangkan menurut (M. Clevo Rendy, 2019) penyebab fraktur adalah:

  1. Kekerasan langsung, kekerasan langsung menyebabkan patah  tulang pada titik terjadinya kekerasan, fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
  2. Kekerasan tidak langsung, kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang mengalami patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran kekerasan.
  3. Terjadi akibat tarikan otot, patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi, kekuatan yang dapat meneyebabkan dapat berupa pemuntiran, penekukan dan penekanan.

2.1.3 Manifestasi klinis

Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas pemendekan ekstremitas, krepitus, pembekakan lokal, dan perubahan warna. Gejala umum fraktur adalah :

  1. Nyeri yang terus-menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk nidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
  2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan cenderung bergerak secara tidak almiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fregmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat lengketnya otot.
  3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fregmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inc).
  4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba dengan adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fregmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera (Ningsih, 2013)

2.1.4  Klasifikasi Fraktur

Menurut (Kholid Rosyidi MN, 2013) penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis, dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  1. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
  2. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
  3. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
  4. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur.
  5. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
  6. Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulag seperti :
  7. Hair line fraktur (patah retak rambut)
  8. Buckle atau torus fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks denga kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
  9. Green stick fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainya yang terjadi pada tulang panjang.
  10. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubunganya dengan mekanisme trauma.
  11. Fraktur transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
  12. Fraktur oblik: fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.
  13. Fraktur spiral: fraktur yang garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
  14. Fraktur kompresi: fraktur yang terjadi karena truam aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
  15. Fraktur avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan antara atau traksi otot pada insersinya pada tulang.
  16. Berdasarkan jumlah garis patah.
  17. Fraktur komunitif: fraktur yang garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
  18. Fraktur segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
  19. Fraktur menyeluruh: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
  20. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
  21. Fraktur undislaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
  22. Fraktur displaced (bergeser) terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
  23. Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu)
  24. Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
  25. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh)
  • Berdasarkan posisi fraktur

Satu batang tulang terbagi menjadi tiga bagian:

  1. 1/3 proksimal
  2. 1.3 medial
  3. 1/3 distal

Sedangkan menurut (Kusuma, 2015) klasifikasi fraktur dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Derajat 1:
  2. Luka <1cm
  3. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk
  4. Fraktur sederhana transversal, atau kominutif ringan
  5. Kotaminasi minimal
  6. Derajat 2:
  7. Laserasi>1cm
  8. Kerusakan jaringan lunak,tidak luas,flap/avulsi
  9. Fraktur komunitif sedang
  10. Kontaminasi sedang
  11. Derajat 3:

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit,otot,dan neurovaskuler serta kontaminasi tinggi.

  1. Patofisologi

        Kondisi anatomis dari tulang tibia yang terletak dibawah subkutan memberikan dampak terjadinya resiko fraktur terbuka lebih sering dibandingkan tulang panjang lainya apabila mendapat suatu trauma. Mekanisme cedera dari fraktur cruris dapat terjadi akibat adanya daya putar atau puntir dapat menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam tingkat yang berbeda. Daya anguali menimbulkan fraktur melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkat yang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit. Cedra langsung akan menembus atau merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebabnya yang paling sering. Pada kondisi klinik fraktur cruris terbuka diklasifikasikan dengan menyesuaikan derajat kerusakan dari jaringan lunak yang terjadi (Noor Z. , 2016).

            Hal ini dapat terjadi hilangnya dekontinuitas tulang tibia dan fibula dan terjadi pergeseran fragmen tulang hingga mengalami Nyeri Akut, kerusakan jaringan lunak dan mengakibatkan kecacatan fisik.Tindakan Open Reduction Internal Fixation ORIF merupakan prosedur bedah medis, yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, yang diperlukan untuk patah tulang internal mengacu pada fiksasiplate dan screw untuk memperbaiki atau memfasilitasi penyembuhan (Rosdahl, 2017).

Gambar pathway 2.1 menurut (Kusuma, 2015).

  • Komplikasi

Komplikasi menurut (Kholid Rosyidi MN, 2013) adalah :

  1. Komplikasi Awal
  2. Kerusakan Arteri

Kerusakan arteri karena terjadi trauma yang ditandai tidak adanya nadi, CRT menurun, sianosis bagian distal, hematoma yang lebat, dan dingin pada ekstremitas, perubahan posisi yang sakit, tindakan reduksi dan pembedahan.

  • Kompartemet Sindrom

Merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan perut. Ini disebabkan oleh odema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.

  • Fat embolism Syndrom

Adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur ekstremitas bawah.Terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan sumsum tulang masuk ke aliran darah dan meyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, takikardi, hipertermi, takypnea, demam.

  • Infeksi

Sistem pertahanan tubuh akan mengalami gangguan bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial)dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena pengunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dari plat.

  • Avaskuler Nekrosis

Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya volkman’s ischemia.

  • Syok

Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

  • Pemeriksaan penunjang

menurut (Jauhar, 2013) pemeriksaan diagnostik pada fraktur adalah:

  1. X-ray

Menentukan lokasi/luasnya fraktur.

  • Scan tulang

Memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

  • MRI

Menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

  • Hitung darah lengkap

Hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada pendarahan , peningkatan lekosit sebagai respons terhadap peradangan.

  • Kreatinin
  • Trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal
    • Penatalaksanaan
  • Reduksi

upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehinga kembali seperti semula secara optimal. Dapat juga diartikan reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajaranya dan rotasfanatomis (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Open reduction and internal fixation, ORIF.

Yang bertujuan untuk menjaga mengimobilisasi daerah fraktur sehingga dapat memungkinkan terjadinya proses penyembuhan. Ambulasi dini disesuaikan dengan kondisi pasien. Peningkatan mobilisasi dilakukan secara bertahap, dimulai degan rentang gerak sendi sampai latihan mobilitas umum (Sari, 2013).

  • Konsep Kebutuhan Dasar Nyeri pada klien post op ORIF fraktur cruris
  • Definisi

Perasaan kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan dan sosial.

  • Gangguan rasa nyaman nyeri

       Nyeri merupakan suatu kondisi lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu nyeri bersifat subyektif dan sangat bersifat individual. Stimulus dapat berupa stimulus fisik dan atau mental, sedangkan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu (Haswita, 2017).

  • Jenis nyeri
  • Nyeri berdasarkan durasi
    • Nyeri akut

                        Nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan adanya proses penyembuhan dan pemberian obat. Nyeri akut memiliki tujuan untuk memperingatkan adanya suatu cedera atau musibah nyeri akut umumnya berlangsung kurang dari enam bulan (Muttaqin, 2008)

  • Nyeri kronis

                        Nyeri kronis adalah suatu keadaan ketidaknyamanan yang dialami individu yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Suatu episode nyeri kronis sebelum enam bulan telah berlalu atau beberapa jenis nyeri dapat tetap bersifat akut secara primer selama lebih dari enam bulan (Muttaqin, 2008).

  • Nyeri berdasarkan intensitas

Menurut (Haswita, 2017). Pengukuran intensitas nyeri dengan menggunakan skala dengan penderita unuk memilih salah satu bilangan dari 0-5 yang menurutnya paling menggambarkan pengalaman nyeri yang sangat dirasakan.

Skala nyeri menurut Mc Gill dapat dituliskan sebagai berikut:

  1. 0 = tidak nyeri
  2. 1 = nyeri ringan
  3. 2 = nyeri sedang
  4. 3 = nyeri berat atau parah
  5. 4 = nyeri sangat berat
  6. 5 = nyeri hebat

Pengkajian yang lebih sederhana dan mudah dilakukan adalah menggunakan skala 0-10 yaitu analog visual skala dengan cara menyatakan sejauh mana nyeri yang dirasakan klien.

  • Berdasarkan skala nyeri

 Gambar 2.2 rentang skala nyeri berdasarkan (Haswita, 2017).

  • Berdasarkan ekspresi wajah
https://3.bp.blogspot.com/-uq2ZGfEa_tA/WU0lLQlWO2I/AAAAAAAAAao/IwGduEzKkvc-bngp3Q9RtQrB_Y3jSPm0wCLcBGAs/s320/wb.png

Gambar 2.3 berdasarkan ekpresi wajah menurut (Bare, 2012)

  1. Ekspresi wajah 1: tidak merasa nyeri sama sekali
    1. Ekspresi wajah 2: nyeri hanya sedikit
    1. Ekspresi wajah 3: sedikit lebih nyeri
    1. Ekspresi wajah 4: jauh lebih nyeri
    1. Ekspresi wajah 5: jauh lebih nyeri sangat
  2. Konsep asuhan keperawatan

       Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan sistem atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

  • Pengkajian
  • Identitas klien

Fraktur Cruris biasanya terjadi pada pasien dibawah umur 45 tahun   (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Status kesehatan ini
  • Keluhan utama

Pada umumnya keluhan pada kasus fraktur adalah nyeri akut. Nyari  bisa akut atau kronis tergantung dari lamanya penyembuhannya (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Riwayat penyakit sekarang

Pada masalah nyeri yang dapat dilakukan adalah adanya riwayat nyeri, keluhan nyeri seperti lokasi nyeri, intensitas, kualitas, dan waktu serangan. Pengkajian dilakukan dengan cara PQRST :

  1.  Provoking incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor nyeri  (Kholid Rosyidi MN, 2013).
  2. Quality of pain: seperti apa rasa gangguan nyeri yang dirasakan atau di gambarkan klien (M. Asikin, 2016).
  3. Region: radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi (Kholid Rosyidi MN, 2013).
  4. Severity (scale) of pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa didasarkan skala atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya (M. Asikin, 2016).
  5. Time: berapa lama nyeri berlangsung kapan, apakah bertambah buruk (Kholid Rosyidi MN, 2013)
  6. Riwayat kesehatan terdahulu
  7. Riwayat penyakit sebelumnya

Pengkajian riwayat kesehatan diperlukan untuk menghindari komplikasi pada intraoperatif dan pascaoperatif. Pasien yang mempunyai riwayat hipertensi perlu dikoreksi sebelum pembedahan (Sari, 2013).

  • Riwayat penyakit keluarga

Pada penyakit riwayat keluarga penyakit tulang merupakan faktor terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Kholid Rosyidi MN, 2013)

  • Alergi

Kaji adanya riwayat alergi obat-obatan (Sari, 2013).

  • Riwayat lingkungan

Fraktur sering terjadi berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan lalu lintas (Ningsih, 2013).

  • Pemeriksaan fisik
  • Keadaan umum
  • Kesadaran penderita: apatis, gelisah,atau komposmentis tergantung keadaan klien.
  • Kesakitan, akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
  • Tanda-tanda vital tidak normal karena terjadi gangguan baik fungsi maupun bentuk.
  • Body sistem
  • Sistem pernafasan

Pasien pascaoprasi akan mengalami efek dari anastesi umum terlihat pada sistem respirasi, dimana akan terjadi respon depresi pernafasan sekunder dari sisa anastesi inhalasi, kontrol kepatenan jalan nafas menurun, dan juga penurunan kemampuan untuk melakukan batuk efektif dan muntah yang masih belum optimal. Kondisi ini menyebabkan adanya masalah keperawatan jalan nafas tidak efektif dan resiko tinggi pola nafas tidak efektif (Sari, 2013).

  • Sistem kardiovaskular

Pasien pasca oprasi akan mengalami efek anastesi yang akan mempengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal sehingga mempunyai resiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang berimplikasi pada penurunan curah jantung (Sari, 2013).

  • Sistem persyarafan

Pasien pasca oprasi akan mengalami efek anastesi pada sistem syaraf pusat akan mempengaruhi penurunan kontrol kesadarandan kemampuan orientasi pada lingkungan, Sehingga pasien yang mulai sadar dapat gelisah. Penurunan reaksi anastesi akan bermenifestasi munculnya nyeri akibat kerusakan neuromuscular pascaoprasi (Sari, 2013)

  • Sistem penglihatan

Tidak ada gangguan anemis pada konjungtiva (Karena tidak terjadi perdarahan) (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Sistem pendengaran

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Sistem perkemihan

Secara umum efek anastesi juga menpengaruhi terhambatnya jaras aferen dan eferen terhadap kontrol miksi, sehingga berimplikasi pada masalah gangguan pemenuhan eliminasi urine (Sari, 2013).

  • Sistem pencernaan

Pasien pascaoprasi akan mengalami efek anestesi akan menimbulkan penurunan peristaltik usus dan resiko paralisis usus dan berimplikasi pada peningkatan resiko paralisis usus dengan distensi otot otot abdomen dan timbulnya gejala obstruksi gastrointestinal. Efek anastesi juga mempengaruhi kemampuan pengosongan lambung, sehingga terjadinya refluks, esofagus dan makanan keluar dari kerongkongan yang memicu terjadinya aspirasi ke saluran nafas (Sari, 2013).

  • Sistem muskuloskeletal

Pada ekstremitas yang mengalami post operasi Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) fraktur femur terjadi nyeri, bengkak atau odem serta kesulitan dalam menggerakkan ekstremitas, warna kulit pucat (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Sistem endokrin

Penderita post operasi tidak terjadi gangguan atau kelainan (Sari, 2013).

  1. Sistem integument

Efek anastesi juga mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh sehingga kondisi pascabedah pasien cenderung mengalami hipotermi (Sari, 2013). Sedangkan menurut (Kholid Rosyidi MN, 2013) terdapat eritema, suhu sekitar trauma meningkat, terjadi pembengkakan atau oedem dan nyeri tekan.

  1. Sistem reproduksi

Klien tidak bisa melakukan hubungan sexsual karena harus menjalani penyembuhan dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien (Kholid Rosyidi MN, 2013)

  • Pemeriksaan penunjang

fraktur femurdikemukakan oleh banyak sumber, salah satunya dari (Ningsih, 2013), antara lain adalah:

  1. Pemeriksaan rongent

Menentukan lokasi/luasnya, fraktur/ trauma dan jenis fraktur (Ningsih, 2013).

  • Scan tulang

Memperlihatkan fraktur lebih jelas dan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak (Ningsih, 2013).

  • Kratinin

Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal plate (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • MRI

Menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur (Noor Z. , 2016)

6. Penatalaksanaan

  1. Prinsip penatalaksanaan tindakan fraktur femur adalah :
  2. Reduksi

Upaya untuk memperbaiki fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Dapat juga diartikan reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajaran dan rotasfanatomis (Kholid Rosyidi MN, 2013).

  • Penatalaksanaan OPEN REDUCTIN AND INTERNAL FIXATION (ORIF)

Open reduction biasanya disertai dengan internal fixation yang bertujuan untuk menstabilisasi dan mengimobilisasi tulang sehingga dapat memungkinkan terjadinya proses pemulihan pada tulang yang mengalami fraktur. Internal fixation merupakan prosedur yang menggunakan alat-alat seperti plat, sekrup, kawat, dan paku. Pemasangan alat-alat dari logam tersebut tergantung pada tipe fraktur, jenis reduksi yang dilakukan, dan area yang dipengaruhi oleh fraktur. Internal fixation dilakukan pada patah tulang tertutup yang tidak stabil, fraktur terbuka, dan fraktur yang disertai cidera jaringan lunak atau pada korban yang mengalami trauma multiple (Sari, 2013).

  • Penatalaksanaan keperawatan ORIF pasca operasi :

Yaitu dengan cara pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien serta mengajarka latihan ROM pasif dan aktif seperti gerak ke posisi miring, duduk, berdiri, bangun, dan berpindah (Palapina Heriana, 2014). Tindakan keperawatan orif pasca operasi adalah biasannya dibebat dengan EB atau Gips yang bertujuan untuk mengimobilisasi dua sendi dari tulang yang mengalami fraktur (Sari, 2013).

  • Farmakologi

Menurut (Saputro, 2016) secara farmakologis diberikan obat antara lain:

  1. Golongan antiinflamasi nonsteroid contohnya: ibuprofen (mortin) 200-400 mg)
  2. Golongan analgetik non narkotik contohnya: tramadol (utram) atau topical kapsaicin.
  3. Golongan analgetik ipoid
  4. Golongan antidepresan trisiklik contohnya: amitriptilin hidroklorida (eavil)
  5. Diagnosa keperawatan
  6. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur operasi

Definisi: pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan

Penyebab

  1. Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebih)

Gejala dan tanda mayor

Subjektif

  1. Mengeluh nyeri

Objektif

  1. Tampak meringis
  2. Bersikap protektif (mis, waspada, posisi menghindari nyeri)
  3. Gelisah 
  4. Frekuensi nadi meningkat
  5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor

Subjektif

  1. Tidak tersedia

Objektif

  1. Tekanan darah meningkat
  2. Pola nafas berubah
  3. Nafsu makan berubah
  4. Proses berfikir terganggu
  5. Menarik diri
  6. Berfokus pada diri sendiri
  7. Diaforesis

Kondisi klinis terkait

  1. Kondisi pembedahan
  2. Cedera trumatis
  3. Resiko infeksi berhubungan dengan bekas luka operasi

Definisi

Beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik (PPNI, 2017).

Faktor resiko

  1. Penyakit kronis (mis. Diabetes militus).
  2. Efek prosedur infasuf.
  3. Malnutrisi.
  4. Peningkatan paparan organisme pathogen lingkungan.
  5. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer.
  6. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder.

Kondisi klinis terkait

Tindakan infasif (PPNI, 2017).

  • Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur tulang
  • Definisi

Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri (PPNI, 2017).

  • Penyebab
  • Kerusakan integritas struktur tulang
  • Penurunan kendali otot
  • Penurunan massa otot
  • Penurunan kekuatan otot
  • Gangguan muskuloskeletal
  • Program pembatasan gerak
  • Gangguan kognitif
  • Gejala dan tanda mayor

Subjektif

  1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas

Objektif

  1. Kekuatan otot menurun
  2. Rentang gerak (ROM)

Gejala dan tanda minor

Subjektif

  1. Nyeri saat bergerak
  2. Enggan melakukan pergerakan
  3. Merasa cemas saat bergerak

Objektif

  1. Sendi kaku
  2. Gerakan tidak terkoordinasi
  3. Gerakan terbatas
  4. Fisik lemah

Kondisi klinis terkait

  1. Trauma
  2. Fraktur
  3. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan kurang aktifitas fisik

Definisi: penurunan sirkulasi darah pada level kapiler yang dapat mengganggu metabolisme tubuh

Penyebab

  1. Kurang aktivitas fisik

Gejala dan tanda mayor

Subjektif

  1. Tidak tersedia

Objektif

  1. Pengisian kapiler >3 detik
  2. Nadi parifer menurun atau teraba
  3. Akral teraba dingin
  4. Warna kulit pucat
  5. Turgor kulit menurun

Gejala dan tanda minor

Subjektif

  1. Parastesis
  2. Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten)

Objektif

  1. Edema
  2. Penyembuhan luka lambat
  3. Indeks ankle-brachial <0,90
  4. Bruit femoral

Kondisi klinis terkait

  1. Anemia
  2. Trombosis arteri
  3. Trombosis vena dalam
  4. Sindrom kompartemen
  5. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

Definisi: Beresiko mengalami penurunan volume cairan intravascular, intersitisial, dan atau intraselular

Faktor resiko

  1. Kehilangan cairan secara aktif
  2. Kekurangan intake cairan

Kondisi klinis terkait

  1. Trauma atau/perdarahan
  2. Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan dengan bekas luka operasi

Definisi

Kerusakan kulit dermis atau epidermis atau jaringan membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, tulang kartilago, atau ligament (PPNI, 2017)

Batasan karakteristik

  1. Mayor

Kerusakan jaringan atau lapisan kulit.

  • Minor

Nyeri, perdarahan, kemerahan, hematoma.

Kondisi klinis terkait

Imobilisasi.

  • Intervensi keperawatan

Menurut (Wilkinson, 2016) intervensi keperawatan adalah :

  1. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan operasi
  2. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri pada pasien berkurang.
  3. Kriteria hasil NOC (Nursing Outcome Classification):
  4. Pasien akan memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan.
  5. Mempertahankan tingkat nyeri pada atau kurang (dengan skala 0 – 10).
  6. Melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologi.
  7. Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi faktor tersebut.
  8. Melaporkan nyeri kepada penyediaan layanan kesehatan.
  9. Menggunakan tindakan meredakan nyeri dengan analgesik dan non analgesik tekanan darah.
  10. Mempertahankan selera makan yang baik.
  11. Melaporkan pola tidur yang baik.
  12. Melaporkan kemampuan untuk mempertahankan performa peran dan hubungan interpersonal.
  13. Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification):
  14. Pengkajian dan aktivitas keperawatan
  15.  Beri penjelasantentang penyebab nyeri

Rasional: Memberi pemahaman tentang penyebab nyeri

  • Kaji nyeri dengan PQRST

Rasional: Mengoptimalkan intensitas nyeri

  • Observasi tanda-tanda vital

Rasional: Data dasar perkembangan kesehatan pasien

  • Atur posisi nyaman pada pasien

Rasional: Memberikan tingkat kenyaman pasien

  • Ajarkan pasien teknik ditraksi relaksasi

Rasiona: Mengurangi rasa nyeri

  • Batasi jumlah pengunjung

Rasional: Meberikan kenyamanan dalam pasien beristirahat

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga:
  • Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai

Rasional: Dapat memantau sejauh mana rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien

  • Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang dirasakan

Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyebab nyeri yang dirasakan

  • Berikan informasi tentang nyeri

Rasional: Menambah pengetahuan pasien tentang penyebab nyeri dan penanganan nyeri

  • Ajarkan penggunakan teknik nonfarmakologi misalnya teknik distraksi relaksasi untuk mengalihkan rasa nyeri

Rasional: Mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien

  • Aktivitas kolaboratif
  • Kolaborasikan dengan dokter pemberian analgetik

Rasional:Mengurangi dan menghilangkan nyeri

  • Aktivitas lain
  • Bantu pasien mengidentifikasikan tindakan kenyamanan yang efektif di masa lalu, seperti distraksi relaksasi atau kompres hangat/dingin

Rasional: Mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien

  • Resiko infeksi berhubungan dengan bekas luka operasi
  • Tujuan: faktor resiko akan hilang, dibuktikan oleh pengendalian resiko komunitas: Status imun, keparahan infeksi, dan penyembuhan luka: primer dan sekunder.
  • Kriteria hasil NOC (Nursing Outcome Classification):
  • Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
  • Memperlihatkan personal hygiene yang adekuat
  • Mengindikasikan  status gastrointestinal, pernapasan, genitourinaria, dan imun dalam batas normal
  • Menggambarkan factor yang menunjang penularan infeksi
  • Melaporkan tanda atau gejala infeksi serta mengikuti prosedur skrining dan pemantauan
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification):
  • Pengkajian dan Aktifitas keperawatan
  • Pantau tanda gejala infeksi (misalnya, suhu tubuh, denyut jantung, drainase, penampilan luka, sekresi, penampilan urin, suhu kulit, lesi kulit, keletihan atau malaise)

Rasional: Mencegah masukan bakteri dan terjadinya infeksi pada luka pasien

  • Kaji factor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misalnya, usia lanjut, usia kurang dari 2 tahun, luluh imun dan malnutrisi)

Rasional: Meningkatkan hiygiene personal mencegah terjadinya infeksi

  • Pantau hasil laboratorium (hitung darah lengkap, hitung granulosit, absolut, hitung jenis, protein serum dan albumin)

Rasional: Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemi

  • Amati penampilan personal hygine untuk perlindungan terhadap infeksi

Rasional: Meningkatkan higiene personal mencegah terjadinya infeksi

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Jelaskan pada pasien dan keluarga mengapa sakit atau terapi meningkatkan resiko terhadap infeksi

Rasional: Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penanganan dini bila terjadi infeksi.

  • Instruksikan untuk menjaga personal hygiene untuk melindungi tubuh terhadap infeksi (misalnya, mencuci tangan)

Rasional: Meningkatkan higiene personal mencegah terjadinya infeksi

  • Pengendalian infeksi NIC: ajarkan teknik mencuci tangan yang benar dan ajarkan kepada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan meninggalkan ruang pasien

Rasional: Meningkatkan kebersihan pasien dan mencegah infeksi

  • Aktivitas kolaboratif
  • Berikan terapi antibiotik, bila diperlukan

Rasional: Pemberian antibiotik dapat mencegah terjadinya infeksi

  • Aktivitas lain
  • Lindungi pasien terhadap kontaminasi silang dengan tidak menugaskan perawat yang sama untuk pasien lain yang mengalami infeksi dan memisahkan ruang perawatan pasien dengan pasien yang terinfeksi

Rasional: Mencegah terjadinya infeksi silang terhadap pasien

  • Bersihkan lingkungan dengan benar-benar setelah dipergunakan oleh masing-masing pasien

Rasional: Lingkungan yang bersih dapat melindungi pasien dari infeksi

  • Batasi jumlah pengunjung, bila diperlukan

Rasional: Membatasi jumlah pengunjung mampu mengurangi terjadinya infeksi

  • Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan ekstremitas
  • Tujuan: memperlihatkan mobilitas yang tidak mengalami gangguan, keseimbangan, koordinasi, performa posisi tubuh, pergerakan sendi dan otot, berjalan, bergerak dengan mudah
  • Kriteria Hasil NOC (Nursing Outcomes Classifacation):
  • Pasien akan memperlihatkan penggunaan alat bantu secara benar dengan pengawasan
  • Pasien akan meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi jika diperlukan
  • Pasien akan menyangga berat badan
  • Pasien akan berpindah dari dan ke kursi atau kursi roda
  • Menggunakan kursi roda secara efektif
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification):
  • Pengkajian dan aktivitas keperawatan
  • Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap ekstremitas secara terpisah terhadap kekuatan dan gerakan normal, respon terhadap rangsang

Rasional: Lobus frontal dan parietal berisi saraf-saraf yang mengatur fungsi motorik dan sensorik dan dapat dipengaruhi oleh iskemia atau peningkatan tekanan

  • Ubah posisi klien setiap 2 jam

Rasional: Mencegah terjadinya luka tekan akibat tidur terlalu lama pada bagian belakang

  • Lakukan latihan secara teratur dan letakkan telapak kaki klien di lantai saat duduk di kursi atau papan penyangga saat tidur di tempat tidur

Rasional: Mencegah deformitas dan komplikasi seperti foodrop

  • Lakukan latihan di tempat tidur. Lakukan latihan kaki sebanyak 5 kali kemudian ditingkatkan secara perlahan sebanyak 20 kali setiaap kali latihan

Rasional: Membantu klien untuk mempersiapakan aktivitas dikemudian hari

  • Lakukan latihan berpindah (ROM) 4x sehari setelah 24 jam

Rasional: Dapat belajar menggunakan kakinya yang mengalami gangguan mobilitas fisik

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Dukung pasien dan keluarga untuk memandang keterbatasan dengan realistis

Rasional: Dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien

  • Tentukan tingkat motivasi pasien untuk mempertahankan atau mengembalikan mobilitas sendi dan otot

Rasional: Mempertahankan atau mengembalikan kondisi pasien semula

  • Ajarkan pasien dalam latian untuk meningkatkan kekuatan tubuh bagian atas jika diperlukan

Rasional: Membantu meningkatkan atau mempercepat kesembuhan pasien

  • Aktivitas kolaboratif
  • Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik atau okupasi jika diperlukan (misanya untuk memastikan ukuran dan tipe kursi roda yang sesuai dengan pasien).

Rasional: Mempercepat penyembuhan kondisi pasien

  • Aktivitas lain
  • Berikan penguatan positif selama aktivitas

Rasional: Mencegah pasien terjatuh/ memperburuk kondisi pasien

  • Awasi seluruh upaya mobilisasi dan bantu pasien

Rasional: Mencegah pasien terjatuh/ memperburuk kondisi pasien

  • Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penyumbatan pembuluh darah
  • Tujuan: menunjukkan status sirkulasi, yang dibuktikan oleh indicator (sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada penyimpangan dari rentang normal): tekanan persial oksigen dan karbon dioksiada pada daerah arteri, nadi karotis kiri dan kanan, brachial, radial, femoral, dan pedal.
  • Kriteria hasil NOC (Nursing Outcome Classification):
  • Menunjukkan fungsi otonom yang utuh
  • Melaporkan kecukupan energi
  • Berjalan 6 menit dengan tidak merasakan nyeri ekstremitas bawah
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification):
  • Pengkajian dan aktivitas keperawatan
  • Kaji ulkus statis dan gejala selulitis (yaitu nyeri, kemerahan, dan pembengkakan ekstremitas)

Rasional: Mengetahui ada atau tidaknya nyeri, kemerahan dan pembengkakan ektremitas pada pasien

  • Pantau nilai elektrolit yang berkaitan dengan disritmia

Rasional: Mengetahui kadar elektrolit pasien         

  • Kaji integritas kulit perifer

Rasional: Mengetahui perubahan integritas kulit perifer pasien

  • Kaji tonus otot, pergerakan motorik, gaya berjalan, dan propriosepsi

Rasional: Mengetahui ekstremitas yang mengalami kerusakan dan kekuatan otot

  • Pantau asupan dan haluaran

Rasional: Mengetahui masukan dan pengeluaran cairan pasien

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Ajarkan manfaat latihan fisik pada sirkulasi perifer

Rasional: Meningkatkan kondisi dan sirkulasi perifer pasien

  • Hindari suhu ekstrim ke ekstremitas

Rasional: Meningkatkan mobolitas pasien secara bertahap

  • Pentingnya mematuhi program diet dan medikasi

Rasional: Program diet dapat mempercepat proses penyembuhan

  • Melaporkan tanda dan gejala yang mungkin perlu dilaporkan kepada dokter

Rasional: Mengantisipasi terjadinya penurunan kesehatan pasien

  • Ajarkan pasien atau keluarga untuk memantau posisi bagian tubuh ketika mandi, duduk, berbaring, atau mengubah posisi

Rasional: Mencegah terjadinya kerusakan luka jaringan perifer

  • Aktivitas kolaboratif
  • Berikan medikasi berdasarkan instruksi atau protocol

Rasional: Mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien

  • Aktivitas lain
  • Distribusikan asupan cairan yang diprogramkan secara tepat selama periode 24 jam

Rasional: Mencegah terjadinya odem pada pasien

  • Pertahankan pembatasan cairan dan diet

                        Rasional: Mencegah terjadinya penurunan kesehatan pasien

  • Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
  • Tujuan: pasien tidak akan mengalami syok, yang ditunjukkan dengan perfusi jaringan: selular adekuat, dan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
  • Kriteria hasil NOC (Nursing Outcome Classification):
  • Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien (sebagai aturan, tekanan darah minimal 90 mmHg, denyut jantung antara 60 dan 100 kali per menit dengan irama normal, dan kecepatan pernapasan 12 hingga 20 kali per menit)
  • Haluaran urine normal (0,5 ml/kg/jam)
  • Asupan dan haluaran cairan seimbang
  • Kulit hangat dan kering
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Classification)
  • Pengkajian dan aktivitas keperawatan
  • Pantau kondisi yang dapat mengarah ke hipovolemia

Rasional: Mencegah terjadinya hipovolemia pada pasien

  • Kaji kondisi sirkulasi

Rasional: Mencegah terjadinya penurunan sirkulasi

  • Pantau asupan dan haluaran, termasuk luka, drain, muntah, dan diare

Rasional: Mencegah terjadinya dehidrasi pasien

  • Pantau tanda-tanda vital

Rasional: Mengetahui kondisi pasien ada perubahan status kesehatan atau tidak

  • Pantau warna dan kelembapan kulit

Rasional: Mencegah terjadinya perubahan kulit dan klembapan

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga
  • Ajarkan pasien/keluarga tentang mencegah infeksi

Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien/keluarga penyebab infeksi

  • Ajarkan tanda dan gejala syok

Rasional: Meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyebab syok

  • Aktivitas kolaboratif
  • Berikan oksigen

Rasional: Mencegah terjadinya syok hipovolemia

  • Rujuk ke dokter gizi jika diperlukan diet khusus untuk meningkatkan kesehatan atau penyembuhan sistem imun

Rasional: Mempercepat penyembuhan dan peningkatan sistem imun

  • Aktivitas lain
  • Siapkan untuk memberikan cairan, elektrolit, koloid, atau darah

Rasional: Mencegah pasien dari kekurangan cairan

  • Gunakan metode aseptik ketat untuk mencegah infeksi

Rasional: Mencegah terjadinya infeksi terhadap pasien

  • Berikan nutrisi oral, enteral, atau parenteral

Rasional: Mencegah terjadinya dehidrasi terhadap pasien

  • Gangguan integritas kulit berhubungan dengan bekas luka operasi
  • Tujuan:
  • Menunjukan integritas jaringan: kulit dan membrane mukosa, yang dibuktikan oleh indikator berikut: suhu, elastisitas, hidrasi, dan sensasi, perfusi jaringan, keutuhan kulit
  • Menunjukan penyembuhan luka: primer, yang dibuktikan oleh indikator berikut: penyatuan kulit, penyatuan ujung luka, pembentukan jaringan parut
  • Menunjukan penyembuhan luka: primer, yang dibuktikan oleh indikator berikut: eritena kulit sekitar, luka berbau busuk
  • Menunjukan penyembuhan luka: sekunder, yang dibuktikan oleh indikator berikut: granulasi, pembentukan jaringan parut, penyusutan luka
  • Kriteria hasil NOC (Nursing Outcome Classification):
  • Pasien/keluarga menunjukan rutinitas perawatan kulit atau perawatan luka yang optimal
  • Nekrosis, selumur, lubang, perluasan luka ke jaringan di bawah kulit, atau pembentukan saluran sinus berkurang atau tidak ada
  • Eritema kulit dan eritema di sekitar luka minimal
  • Intervensi NIC (Nursing Intervention Clasification):
  • Pengkajian dan aktivitas keperawatan
  • Perawatan area insisi: inspeksi adanya kemerahan, pembengkakan, atau tanda-tanda dehisensi

Rasional: Mencegah terjadinya kemerahan, pembengkakan dan infeksi

  • Perawatan luka: inspeksi luka pada setiap mengganti balutan

Rasional: Mencegah adanya puss dan mempercepat penyembuhan luka pasien

  • Kaji luka: lokasi, luas, kedalaman luka, kekentalan, warna, bau, ada atau tidak jaringan nekrotik, dan ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi luka

Rasional: Mengetahui keadaan luka pasien

  • Penyuluhan untuk pasien/keluarga:
  • Ajarkan perawatan luka insisi pembedahan, termasuk tanda dan gejala infeksi, cara mempertahankan luka insisi tetap kering saat mandi, dan mengurangi penekanan pada insisi tersebut

Rasional: Meningkatkatkan pengetahuan pasien dan memandirikan pasien

  • Aktivitas Kolaboratif:
  • Konsultasikan pada ahli gizi tentang maknan tinggi protein, mineral, kalori, dan vitamin

Rasional: Memberikan diet yang tepat terhadap pasien

  • Melakukan perawtaan luka

Rasional: Mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi

  • Aktivitas lain:
  • Evaluasi tindakan pengobatan

Rasional: Mengetahui sejauh mana perubahan pasien

  • Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin

Rasional: Mepercepat penyembuhan luka

  • Bersihkan dan balut area insisi pembedahan menggunakan prinsip steril

Rasional: Mencegah terjadinya infeksi terhadap pasien

  • Implementasi

          Implementasi adalah aplikasi intervensi yang telah diterapkan, sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Implementasi yang dapat diberikan antara lain melakukan tugas self care klien dan membantu klien dalam melakukan self care, sehinggga sistem perawatan dapat terkoordinasi dengan baik  (Rosdahl, 2017).

  • Evaluasi

Menurut (Wilkinson, 2016), evaluasi keperawatan merupakan tahap kelima asuhan keperawatan yang mengacu atau mengobservasi ulang dari keadaan pasien melalui kriteria yang diharapkan dengan menggunakan SOAP (subjektif, objektif, assesment, dan planning) atau SOAPIER (subjektif, objektif, assesment, planning, implementasi, evaluasi, reassesment).

Sedangkan menurut (Wahid, 2016) Adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan dari diagnosa keperawatan, rencana intervens, dan implementasi. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai kebutuhan dasar sesuai kebutuhanya . Hal ini dapat dilakukan dengan melihat respons klien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan

BAB III

METODE PENELITIAN

  • Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus penelitian studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah suatu proses menemukan dan  pengetahuan yang menggunakan data dan menganalisis keterangan mengenai apa yang diketahui (Hidayat A. A., 2009).

Studi kasus dilakukan terhadap suatu unit tunggal, yakni bisa kepada individu, satu komunitas atau kelompok tertentu yang terkena suatu persoalan/masalah (Munif, 2010).

Penelitian ini menggunakan desain studi kasus yang merupakan studi bertujuan untuk membandingkan antara, teori dan kasus asuhan keperawatan klien yang mengalami fraktur cruris post op ORIF hari ke-1  dengan masalah nyeri akut di ruang RPC RSU Bhakti Husada Krikilan Glenmore Banyuwangi.

  • Batasan Istilah

Asuhan keperawatan klien yang mengalami fraktur cruris post op orif hari ke-1 dengan nyeri akut di ruangan RSU Bhakti Husada Krikilan.

 Fraktur cruris atau tibia-fibula adalah terputusnya hubungan tulang tibia dan fibula. Secara klinis bisa berupa fraktur terbuka bila disertai kerusakan pada jaringan lunak(otot, kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga memungkinkan terjadinya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan udara luar dan fraktur tertutup (Noor Z. , 2016).

Nyeri merupakan suatu kondisi lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu nyeri bersifat subyektif dan sangat bersifat individual. Stimulus dapat berupa stimulus fisik dan atau mental, sedangkan kerusakan dapat terjadi Pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu (Haswita, 2017).

  • Partisipan

Menurut Sugiyono (2016) partisipan adalah orang yang dekat dan benar-benar tahu serta menguasai masalah, terlibat langsung dalam masalah penelitian. Metode penelitian kualitatif, maka penelitian tersebut sangat erat kaitanya dengan faktor-faktor konsektual, jadi dalam hal ini 1 pasien ditentukan secara terperinci selain itu juga harus diperlukan untuk suatu penelitian.

Partisipan dalam hal ini adalah sebagai berikut :

  1. Pasien

Karakteristik partisipan adalah satu klien yaitu yang mengalami Fraktur Cruris post op ORIF fraktur cruris hari ke-1 dengan nyeri akut. Data dapat di peroleh dari klien meliputi identitas, alasan masuk rumah sakit, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit sebelumnya, obat-obatan yang digunakan, kebiasaan, alergi obat/makanan, pemeriksaan fisik yang meliputi sistem persyarafan, sistem pernafasan sistem kardiovaskular, sistem endokrin, sistem perkemihan, sistem pencernaan, sistem muskuloskeletal, sistem imunologi, sistem integument, dan sistem reproduksi.

  • Keluarga

Data yang dapat diperoleh data subyektif meliputi riwayat penyakit kelurga, genogram, riwayat lingkungan dan kebiasaan.

  • Petugas kesehatan
  • Dokter

Dari dokter dapat diperoleh data yaitu terapi pada pasien post op ORIF.

  • Perawat

Dari perawat dapat diperoleh data tentang keadaan dan kondisi pasien selama di rumah sakit atau kondisi saat pertama datang di rumah sakit.

  • Ahli gizi

Dari ahli gizi dapat diperoleh data tentang diet yang harus di berikan kepada pasien Post op ORIF dan makanan yang tidak boleh dimakan oleh pasien.

  • Radiologi dan laboratorium

hasil laboratorium pada pasien Post op ORIF hasil pemeriksaan EKG. X-ray menentukan lokasi/luasnya fraktur

  • Lokasi dan waktu

Studi kasus ini akan dilakukan di RS Bhakti Husada Krikilan Banyuwangi. Dalam jangka waktu dua minggu. Waktu penelitian dari pertama kali klien masuk rumah sakit sampai klien pulang dan minimal klien dirawat 3 hari, jika sebelum 3 hari klien sudah pulang, maka di lanjutkan dalam bentuk home care.

  • Pengumpulan data

Merupakan cara penelitian untuk mengumpulkan data yang akan dilakukan dalam penelitian. Sebelum melakukan pengumpulan data, harus perlu dilihat alat ukur pengumpulan data supaya dapat memperkuat hasil penelitian. Alat ukur pengumpulan data tersebut antara lain dapat berupa wawancara, pemeriksaan fisik dan observasi, studi dokumentasi atau yang lainnya (Hidayat A. A., 2009)

  • Uji Keabsahan Data

Menurut (Sugiyono, 2015) uji keabsahan data dimaksudkan untuk menguji informasi yang diperoleh dari penelitian sehingga menghasilkan data dengan validasi. Uji ini dilakukan dengan cara:

  1. Memperpanjang waktu pengamatan

Memeperpanjang waktu ini berarti hubungan dengan narasumber akan semakin terbentuk, semakin terbuka, serta saling mempercayai sehingga tidak ada lagi informasi yang disembunyikan.

  • Triangulasi data

Triangulasi data diartikan sebagai penegecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Terdapat 3 triangulasi yaitu:

  1. Triangulasi sumber

Menguji kreadibillitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono, 2015).

  • Triangulasi teknik

Menguji kreadibillitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda (Sugiyono, 2015).

  • Triangulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kreadibillitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, dan akan memberikan data yang lebih valid (Sugiyono, 2015)

  • Analisa Data

Analisa data merupakan mencari mengumpulkan dan menyusun secara runtut data yang diperoleh dari hasil wawancara dan catatan lapangan sehingga dapat dipahami oleh orang lain secara menyeluruh. Analisa data kualitatif bersifat induktif yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh (Sugiyono, 2015).

  1. Pengumpulan  Data

Data dikumpulkan melalui hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.

  • Mereduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memiliki hal hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang didapat dan dirangkum akan memberikan gambaran lebih jelas dan mempermudah penelitian untuk melakukan pengumpulan dan selanjutnya.

  • Penyajian Data

Penyajian data tehnik penyajian data merupakan cara bagaimana untuk menyajikan data sebaik baiknya agar mudah dipahami oleh pembaca.

  • Kesimpulan

Merupakan tahap akhir dalam proses analisa data. Pada bagian ini peneliti mengutarakan kesimpulan dari data data yang diperoleh dari observasi, interview, dan dokumentasi.

  • Etika Penelitian

Menurut (Kartika, 2017) dalam melakukan penelitian harus memiliki etika penelitian, dalam penelitian ini peneliti menggunakan etika penelitian yang didasarkan oleh tiga hal yaitu:

  1. Informed concent

Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed concent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden (Kartika, 2017).

  • Anonymity

Merupakan masalah yang memberikan jaminan untuk penggunaan subyek penelitian dengan tidak mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar hasil penelitian (Kartika, 2017).

  • Confidentiality

Merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasian hasil penelitian, baik informasi maupun masalah masalah lainnya. Semua informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti (Kartika, 2017).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *